Breaking News:

Kisah Mahasiswa Asal Jambi Lebaran di Jerman, Mesir, Sudah dan Rusia, Nangis saat Video Call

"Siangnya harus hadir di kelas lagi, kuliah," katanya. Dan memang waktu perkuliahan di Jerman berbeda dengan di Indonesia.

Istimewa
Eka Marsella, mahasiswa People's Friendship University of Rusia asal Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Suasananya beda, kangen menu khas, euforia Idulfitri-nya berbeda dengan di Indonesia. Itulah kerinduan mahasiswa mahasiswi asal Provinsi Jambi yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Mereka dipastikan tak bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah bareng keluarga di rumah.

Ada sekira 180 mahasiswa asal Jambi yang menempuh pendidikan di luar negeri. Data Ikatan Diaspora Muda (IDM) Jambi, mereka tersebar di berbagai universitas yang ada di benua Asia, Amerika, Afrika, Eropa dan Australia.

Berikut cerita yang diperoleh Tribun Jambi dari wawancara beberapa mahasiswa dari Jerman, Sudan, Mesir dan Rusia, yang lama tidak pulang ke Indonesia.

Niken Pusparani Permata Progresia, mahasiswa Jurusan Teknik Energi Universitas Kaiserslautern University of Applied Science, Jerman, bertutur sudah 3,5 tahun di Eropa. Selama itu, ia pernah dua kali pulang ke Indonesia dan tiga kali lebaran di luar negeri.

"Sudah tiga kali dan ini keempat kalinya merayakan Idul Fitri di Jerman," ujarnya.

Julia Misbach saat bulan Ramadan 1442 Hijriah di Mesir.
Julia Misbach saat bulan Ramadan 1442 Hijriah di Mesir. (Istimewa)

Ini yang membuatnya rindu berkumpul keluarga. Ia bertutur pada 2018 dan 2019 biasanya video call dengan orang tua yang mudik ke Bandung, jadi bisa melihat bagaimana suasana lebaran di rumah nenek. "Namun sejak pandemi, saya di Jerman, orang tua di Jambi, serta keluarga besar di Bandung melakukan video call via Zoom," katanya.

Meski kangen, ia merasa ada yang menarik merayakan di negeri panser itu.  Semisal ketika mendapat undangan open house dari ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jerman.

"Rasanya seperti di surga makanan. Biasanya kalau ada sisa makanan, kita yang mahasiswa diperbolehkan untuk bungkus bawa pulang," katanya dengan gembira.

Lebaran di Jerman benar-benar biasa saja. Pada saat Idul Fitri, biasanya Niken salat ied pagi hari, kemudian menelepon keluarga di Indonesia. "Siangnya harus hadir di kelas lagi, kuliah," katanya. Dan memang waktu perkuliahan di Jerman berbeda dengan di Indonesia.

Halaman
1234
Editor: Edmundus Duanto AS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved