Breaking News:

WAWANCARA EKSKLUSIF

Wawancara Eksklusif - Masjid di Suriname Punya Dua Arah Kiblat Berlawanan, Cerita Dubes RI

"Ini salah satu ciri khas Suriname, umat Islam ada yang kiblat ke Barat dan ke Timur. Jadi kalau Salat menghadap Barat dan ke Timur. Jadi kalau ...

Editor: Edmundus Duanto AS
Tribun Network
SEJARAH SURINAME - Duta Besar RI untuk Suriname Julang Pujianto saat berdialog virtual bersama Tribun Network, Kamis (29/4/2021). (TRIBUN NETWORK) 

TRIBUNJAMBI.COM - "Ini salah satu ciri khas Suriname, umat Islam ada yang kiblat ke Barat dan ke Timur. Jadi kalau Salat menghadap Barat dan ke Timur. Jadi kalau menurut penilaian kami, ketika masyarakat Jawa datang ke Suriname 1890-an"

Duta Besar RI untuk Republik Suriname merangkap Republik Ko-Operatif Guyana dan Caribbean Community Julang Pujianto bercerita sejarah Masjid di Suriname dengan kiblat ke arah Timur dan Barat.

Sesuatu yang unik terjadi di Suriname. Pemeluk agama Islam di Suriname, mempunyai masjid dengan dua arah kiblat yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Suriname secara geografis letaknya berada di sebelah barat Mekah, Arab Saudi.

Sedangkan Indonesia sendiri secara geografis berada disebelah timur kota Mekah dimana bangunan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam ada didalamnya.

Dalam menjalankan Salat orang Islam diwajibkan untuk menghadap kiblat, yaitu menghadap Kabah. Umat Islam Indonesia dalam menentukan arah kiblat secara umum adalah dengan menghadap ke arah barat. Dan inilah yang sebagian umat meyakininya bahwa arah kiblat adalah barat.

"Ketika masyarakat Jawa datang ke Suriname 1890an. Ketika itu belum ada teknologi kompas. Di Jawa menghadap Barat, maka di Suriname pun mereka menghadap Barat," ujar Julang.

Disampaikan Julang ketika berbincang bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dan Manajer Pemberitaan Tribun Network Rachmar Hidayat, Kamis (29/4) malam.

Banyak Masjid di Suriname yang dibangun oleh umat Islam keturunan Jawa, yang masih mengikuti tradisi leluhur orang Jawa, dengan menentukan arah kiblatnya ke arah Barat. Mereka masih meyakini bahwa arah kiblat waktu sholat adalah ke arah Barat sebagaimana yang leluhur mereka lakukan di Indonesia.

"Tapi seiring penemuan teknologi baru, kiblat yang lebih dekat ke Mekah adalah yang menghadap ke Timur. Untuk melakukan perubahan itu tidak mudah. Mereka mengikuti orang tuanya. Karena orang tua mereka menekankan kalau Salat menghadap ke Barat. Terus mereka melakukan itu," tutur Julang.

Berikut wawancara khusus redaksi Tribun Network bersama Duta Besar RI untuk Republik Suriname merangkap Republik Ko-Operatif Guyana dan Caribbean Community Julang Pujianto:

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved