Mutiara Ramadan

Bulan Ramadan, Ayat Seribu Dinar dan Dilema Pedagang Warteg

Mungkin sebagian orang sudah, tapi sebagian yang lain bisa jadi belum pernah dengar. ayat seribu dinar adalah surah Ath-Thalaq ayat 2-3.

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Fajri Al Mughni, Lc, MUd 

Maka, pedagang warteg tidak bisa dihukum karena membuka warteg. Selain karena tidak ada dasar hukumnya, orang yang ingin makan di warteg bisa jadi orang-orang yang sedang dibolehkan untuk makan pada siang hari bulan Ramadan, atau mungkin memang beda keyakinan.

Atas dasar itulah, mereka bisa ditetapkan tidak bersalah dan terbebas dari hukuman. Namun dengan syarat dan ketentuan.

Syarat pertama, pedagang warteg harus benar-benar memahami kearifan lokal.

Jika sekiranya masyarakat tempat ia membuka warteg merupakan masyarakat Islam yang bisa jadi sebagian besarnya adalah orang-orang yang belajar puasa, sebaiknya jangan membuka warteg pada siang hari bulan Ramadan. Pedagang harus arif dan bijak.

Yakinlah, akan ada ruang dan jalur rizki lain yang Allah siapkan.

Syarat kedua, pedagang warteg harus menjadi muslim sejati yang bertugas untuk saling mengingatkan antar sesama umat Islam.

Kalaupun terpaksa buka warteg, ingatkan bahwa ia hanya melayani para musafir, udzur syar’i, haid, nifas dan berbeda keyakinan. Selain itu, jangan terima.

Ayo, mari kita saling mengingatkan agar selalu bersikap sabar dan memberi wasiat kepada jalan yang benar. (*)

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved