Mutiara Ramadan

Bulan Ramadan, Ayat Seribu Dinar dan Dilema Pedagang Warteg

Mungkin sebagian orang sudah, tapi sebagian yang lain bisa jadi belum pernah dengar. ayat seribu dinar adalah surah Ath-Thalaq ayat 2-3.

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Fajri Al Mughni, Lc, MUd 

Umat Islam yang datang untuk santap siang ke warteg tentu termasuk dalam golongan orang yang melanggar aturan agama.

Maka dalam hal ini, para pedagang warteg otomatis menjadi merasa bersalah. Analogi sederhananya begini, tidak puasa pada bulan Ramadan merupakan “tindak kejahatan”, makanan yang dimakan merupakan barang buktinya.

Cara kerja polisi dalam menelusuri siapa saja yang terlibat, di antaranya adalah mencari dari mana makanan tersebut didapat. Jika sudah ketemu sumber makanan tersebut, maka pemiliknya akan menjadi orang yang dianggap “bersalah”.

Namun, perlu dicatat bahwa pemilik makanan yang dianggap bersalah, belum tentu bersalah (asas praduga tak bersalah).

Baca juga: Inilah Sosok Jenderal Tetty Melina Lubis, Ahli Hukum TNI AD yang Kawal Kasus Pengeroyokan Kopassus

Baca juga: Hujan Lebat, Material Longsor Timbun Badan Jalan Lintas Bangko-Kerinci

Baca juga: VIDEO Alan Tewas Ditikam Sesama Rekan Penambang Emas di Limun Sarolangun

Baca juga: Nasib Jozeph Paul Zhang Makin Berat Setelah Paspor Dicabut, Pengamat: Zhang Akan Dideportasi

Bahkan wajib hukumnya pedagang warteg dianggap tak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pedagang warteg yang kini dianggap bersalah bisa saja mengajukan pertanyaan, apakah ada peraturan perundang-undangan di Indonesia yang mengatur bahwa membuka warung di siang hari bulan Ramadan dilarang?

Pertanyaan ini sulit dijawab. Namun sebagian pendakwah memiliki jawaban dengan mengutip ayat “Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan maksiat.” (QS. al-Maidah: 2).

Membuka warung di siang hari bulan Ramadan samalah dengan tolong-menolong dalam dosa. Begitu kira-kira argumennya.

Namun, argumen ini mungkin sedikit akan memunculkan semi debat. Dalam Islam ada orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa atau memilih untuk tidak berpuasa.

Misalnya, para musafir, uzur syar’i atau ada halangan, haid, nifas dan orang-orang yang memang berbeda keyakinan. Nah, pedagang warteg hanya akan membukakan pintu atau melayani orang-orang seperti itu.

Kenapa begitu?

Karena tahapan orang yang berpuasa itu bermacam-macam.

Ada yang sedang dalam tahap belajar puasa, ada juga yang sedang dalam tahap menghindari ocehan tetangga, ada juga yang berpuasa karena takut sama istri, dan tahapan-tahapan lainnya.

Untuk itu, anjuran agar warteg atau warung makanan ditutup pada bulan Ramadan adalah dalam rangka menghormati orang-orang yang sedang dalam tahapan belajar puasa itu. Karena kalau bagi orang-orang yang sudah terbiasa berpuasa, tidak akan tergoda hanya dengan dibukanya warteg.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved