Breaking News:

Air untuk Semua, Kondisi Air Sungai Batanghari dari Masa ke Masa

Aliran sungai sepanjang lebih dari 800 kilometer itu berhulu di Kerinci dan Solok Selatan, mengalir ke sungai-sungai melintasi Sumatra Barat dan..

Mareza
Diskusi yang dilakukan Komunitas kawan Lingkungan dalam merayakan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2021 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - "Ketika kapal mau berangkat, merapatlah perahu-perahu ke kapal itu. Ada beberapa pedagang yang berjualan dengan perahu di Sungai Batanghari, dulu," demikian Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Jambi, Tagor Mulia Nasution, Rabu (21/4/2021).
Dulu, air daerah aliran sungai Batanghari begitu jernih.

Aliran sungai sepanjang lebih dari 800 kilometer itu berhulu di Kerinci dan Solok Selatan, mengalir ke sungai-sungai melintasi Sumatra Barat dan Jambi, dan bermuara di Selat Malaka dan Selat Berhala.

Orang-orang dulu melakukan banyak aktivitas di Sungai Batanghari. Dia menceritakan pengalamannya hidup di Jambi, melihat kejernihan sungai itu pada medio 1970-an.

Namun, perlahan, Sungai Batanghari berubah. Tidak sejernih dulu. Airnya mulai keruh. Kata Tagor, itu tidak lepas dari aktivitas di hulu sungai, juga aktivitas masyarakat di sekitar sungai. Batanghari tercemar.

Di hulu, deforestasi kian marak. Belum lagi adanya tambang-tambang yang sebagian besar justru berada tidak jauh dari sungai. Hal ini diperparah dengan pencemaran yang dilakukan masyarakat di sekitar sungai.

"Airnya berwarna cokelat," Tagor menimpal dengan jawaban seorang siswa sekolah dasar yang pernah dia tanyai sekali waktu.
Di daerah hulu, tutupan lahan sudah kronis.

Hutan berganti dengan pertambangan, tanaman karet dan sawit, serta hutan tanaman industri. Dampak dari sana juga menyasar ke sungai. Ekologis ikan kian rusak.
Datok Rafi'i adalah seorang tokoh adat di Desa Rukam, Kabupaten Muarojambi.

Dulu desa itu kampungnya nelayan. Banyak ikan-ikan hidup di sana. Namun, seiring waktu kondisi desa berubah. Ikan-ikan banyak yang mati, bahkan punah.

Datok Rafi'i bilang, perubahan drastis itu dimulai sejak dua dekade lalu. Perusahaan-perusahaan mulai menginjakkan kaki di Desa Rukam. Hutan dan gambut dibabat, berganti menjadi deretan kebun sawit dan akasia.

"Kalau yang saya ingat, sekitar 2000-an awal. Perusahaan masuk. Sejak itu, habis semua," kata Datok Rafi'i.

Halaman
123
Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Nani Rachmaini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved