Breaking News:

51 Persen Wilayah Kerinci Berfungsi sebagai Paru-paru Dunia, Bupati: Kompensasi pada DAU dan DAK

Kabupaten Kerinci telah merelakan sebagian besar wilayahnya sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Berfungsi sebagai paru-paru

Doni
Air Terjun Renah Pemetik di Pedalaman TNKS. 

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Kabupaten Kerinci telah merelakan sebagian besar wilayahnya sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Berfungsi sebagai paru-paru dunia, lalu apa kompensasi atau imbalan yang didapatkan daerah Kerinci?
Diketahui ada sekitar 214.200 hektare atau 51 persen dari 420.000 hektare wilayah Kabupaten Kerinci telah dimasukkan ke dalam kawasan TNKS. Dan kawasan tersebut harus dilindungi atau tak bisa dieksploitasi untuk kegiatan pembangunan ekonomi.
Akibatnya, masyarakat kerinci semakin kekurang lahan untuk dikelola atau berkebun. Daerah juga dituntut untuk menjaga kelestarian TNKS tersebut. Sementara lahan yang ada untuk dikelola semakin hari semakin sempit atau berkurang.
Hal itu berdampak pada rendahnya ekonomi masyarakat kerinci dibanding dengan daerah lain. Sebab kondisi demikian menyulitkan masyarakat Kerinci mengembangkan kegiatan pembangunan ekonomi, khususnya di bidang pertanian dan perkebunan.
Hal itu pula memuat kegiatan ilegal muncul. Beberapa oknum melakukan kegiatan illegal logging, dengan alasan pembukaan lahan pertanian.
Hingga saat ini perambahan masih terus terjadi oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Yang marak saat ini perambahan terjadi di kaki Gunung Kerinci dan Renah Pemetik.
Hal ini diakui langsung pihak Balai Besar TNKS, saat audensi dengan Aliansi Bumi Kerinci, beberapa waktu lalu.
"Di kaki Gunung Kerinci saja ada sekitar 2.000 hektare kawasan TNKS telah dirambah. Di daerah Renah Pemetik juga terjadi perambahan," ujar Wira, Kepala Seksi Perencanaan Perlindungan dan Pengawetan.
Bupati Adirozal dikonfirmasi menyebutkan, bahwa 51 persen wilayah Kabupaten Kerinci merupakan kawasan TNKS. Dan beberapa waktu lalu, pihak TNKS telah membukakan pintu, dimana telah ada MoU Pemkab Kerinci dengan TNKS. Dalam MoU tersebut, masyarakat diperbolehkan memanfaatkan TNKS sebagai objek wisata.
“Masyarakat juga diperbolehkan bercocok tanam, berupa tanaman sayur dan mencari getah di hutan. Asal tidak menebang pohon atau merusak hutan tersebut,” jelasnya.
Disinggung mengenai ada tidak nominal yang didapatkan Kerinci dari keberadaan TNKS? Bupati menyebutkan, kompensasi yang didapat dari keberadaan TNKS, adalah besarnya dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) yang didapatkan Kerinci.
“Kompensasinya bisa berupa DAU dan DAK. Kita lihat saja bagaimana anggaran kita Kerinci, naik atau tidak. Itu cara lain pemerintah memberikan kita kompensasi,” kata Bupati.
Penelusuran Tribun, sejauh ini DAU dan DAK yang diterima Kabupaten Kerinci, kisaran Rp1 triliun lebih. Namun jumlah tersebut sama dengan DAU dan DAK untuk kabupaten yang tidak memiliki wilayah hutan taman nasional.

Penulis: Herupitra
Editor: Fifi Suryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved