Ketika Jokowi Kampanyekan Benci Produk Asing Lalu Tak Malu Buka Impor Beras

Sayangnya ajakan membenci produk asing seolah kontradiksi dengan kebijakan pemerintah terbaru yang kembali membuka impor beras sebanyak 1 juta ton.

Editor: Tommy Kurniawan
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Presiden Joko Widodo atau Jokowi 

TRIBUNJAMBI.COM - Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) baru-baru ini menyerukan soal kampanye masyarakat benci produk asing.

Hal ini dilakukan Jokowi untuk mendukung perekonomian dalam negeri.

Ujaran itu sampaikan Jokowi saat pidato kala membuka Rapat Kerja Kementrian Perdagangan (kemndag) 2021 pada Kamis (4/3/2021).

"Ajakan-ajakan untuk cinta produk-produk kita sendiri, produk-produk Indonesia harus terus digaungkan, produk-produk dalam negeri. Gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri," tutur Jokowi dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Sabtu (6/3/2021).

Kemudian Jokowi menyebut, kampanye cinta produk Indonesia dan benci produk luar negeri perlu digaungkan supaya masyarakat loyal terhadap hasil karya anak negeri.

"Bukan hanya cinta, tapi benci. Cinta barang kita, benci produk dari luar negeri. Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal sekali lagi untuk produk-produk Indonesia," sebut Jokowi.

Baca juga: Popularitas Risma di Pilgub DKI Jakarta Meningkat, Kini Salip Anies Baswedan dan Sandiaga Uno

Baca juga: Misteri Kematian Gadis Bandung di Kediri Terkuak, Dipicu Korban Geram Uang Layanan Bercinta Kurang

Baca juga: Mahasiswi Cantik Habisi Selebgram Ari di Ranjang, Kecewa Hubungan Diakhiri Setelah Semua Diberi

Sayangnya ajakan membenci produk asing seolah kontradiksi dengan kebijakan pemerintah terbaru yang kembali membuka impor beras sebanyak 1 juta ton.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, rencana impor ini sebelumnya telah disepakati dalam rapat koordinasi terbatas, Kementerian Perdagangan bahkan telah mengantongi jadwal impor beras tersebut.

Menurut Lutfi, impor beras akan digunakan untuk menambah cadangan atau pemerintah menyebutnya dengan istilah iron stock.

"Iron stock itu barang yang memang ditaruh untuk Bulog sebagai cadangan, dia mesti memastikan barang itu selalu ada. Jadi tidak bisa dipengaruhi oleh panen atau apapun karena memang dipakai sebagai iron stock," ungkap Lutfi.

Diketahui klaim pemerintah, impor sebesar 1 juta ton, yang terbagi 500.000 ton untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 500.000 ton sesuai kebutuhan Bulog.

Stok beras perlu dijaga karena pemerintah perlu melakukan pengadaan beras besar-besaran untuk pasokan beras bansos selama masa pemberlakuan pembahasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi. (Tribunnews/Republika)

Selain itu, adanya banjir yang menerjang beberapa daerah mengancam ketersediaan pasokan beras.

Namun begitu, pemerintah juga akan tetap melakukan pengadaan beras beras-besaran dari petani lokal.

Upaya menjaga ketersediaan stok beras tersebut dilakukan melalui penyerapan gabah oleh Bulog dengan target setara beras 900.000 ton pada saat panen raya Maret hingga Mei 2021 dan 500.000 ton pada Juni hingga September 2021.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved