Rabu, 6 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Kehidupan yang Hina dan Mulia

Bacaan ayat: Kejadian 2:7 (TB) - "ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya;

Tayang:
Editor: Suci Rahayu PK
ist
Ilustrasi renungan harian 

Kehidupan yang Hina dan Mulia

Bacaan ayat: Kejadian 2:7 (TB) - "ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup".

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (ist)

Kematian, menjadi misteri di sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Dalam banyak keyakinan dan budaya, menyatakan bahwa ada kehidupan di balik kematian. Ada dunia lain yang akan di alami oleh manusia setelah kematian.

Oleh karena itu setiap orang perlu mempersiapkan diri untuk hidup di 'dunia lain' tersebut.

Sebagian membayangkan dunia lain tersebut mirip dengan dunia saat ini, hanya berbeda dalam beberapa hal.

Beberapa yang lain membayangkan dunia sebagai dunia yang penuh kebebasan, apapun yang dilarang pada saat ini, akan bisa dilakukan disana.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Tuhan yang Mahabesar

Segala hal indah saat ini bisa di alami semakin indah nantinya.

Ada juga yang memahami bahwa hidup akan berakhir ketikan kematian tiba.

Keberadaan manusia dan segala akan hilang dan musnah setelah kematian.

Dunia lain hanya dianggap sebagai candu semata yang memberi hiburan, padahal tidak ada.

Beberapa pemahaman tersebut akan berpengaruh dan menentukan perilaku kehidupan saat ini.

Bagi yang memahami bahwa ada dunia lain, yang lebih nikmat maka hidup saat ini akan difokuskan sebagai persiapan, sementara bagi yang memahami tidak ada dunia lain, akan menjadikan kehidupan saat ini sebagai fokus utama untuk dinikmati.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Tuhan Selalu Menyertai

Mungkin banyak juga yang masih kebingungan untuk memilih.

Alkitab secara utuh memperlihatkan bagaimana kehidupan berjalan: berawal dari kekekalan, masuk pada pencipta dan kembali kepada kekekalan.

Kekekalan menjadi bagiannya Tuhan, yang tidak mungkin diketahui oleh manusia, kecuali menjadi pengharapan yang diimani.

Bagian manusia adalah hal-hal yang diciptakan oleh Allah.

Dalam cara paham demikian, ada batasan yang jelas, dimana seharusnya manusia dapat memahami segala sesuatu dan hal lain yang menjadi misteri dan hak prerogatif Allah untuk mengetahui.

Batasan ini diperlukan agara manusia tidak salah dalam berfikir.

Pada posisi sebagai ciptaan, Alkitab sebagai firman Tuhan menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah.

Sebagai ciptaan maka manusia berada di bawah otoritas Allah.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Implikasinya, manusia memancarkan kemuliaan Allah.

Manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan yang dikehendaki oleh Allah akan menjadi penolong yang sepadan.

Artinya, hanya ciptaan yang memiliki konsep laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup Dalam Persekutuan

Manusia diciptakan dari debu tanah dan Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Tujuan awal Allah adalah kehidupan, bukan kematian. Berjumpanya debu tanah dan nafas hidup dari Allah adalah kehidupan.

Ketika manusia memilih memberontak dengan tidak taat, maka kematian hadir.

Kematian mengandung makna, bahwa manusia menjadi terpisah dari Allah dan keterpisahan ini membuat debu tanah kembali kepada debu tanah dan nafas hidup dari Allah akan kembali kepada Allah.

Kematian Tuhan Yesus Kristus menjadi penyelesaian terhadap persoalan ini.

Manusia yang memilih untuk percaya, akan diposisikan kembali terhubung dengan Allah.

Keterhubungan kembali ini dipastikan melalui kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, sehingga mereka yang percaya pada saatnya akan dipulihkan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Roh Kudus akan Menolong

Saat Yesus Kristus datang yang kedua kali nanti, mereka yang sudah mati akan dibangkitkan dengan memakai tubuh kemuliaan yang tidak bisa binasa, lalu yang masih hidup tubuhnya akan diubah dalam sekejab menjadi tidak bisa binasa, dan semua akan bersama-sama hidup bersama Tuhan dalam kekekalan.

Sampai disini alurnya jelas, dari mana manusia berasal, apa yang dialami manusia dan kemana manusia akan menuju.

Implikasinya untuk saat ini, bahwa yang hidup tidak ada lagi kaitan dengan yang mati. Yang hidup urusannya di dunia ini, yang mati sudah menjadi urusannya Tuhan.

Maka kita patut bersyukur jika tidak pernah diberitahu waktunya, kapan Tuhan akan memanggil. Itu urusan Tuhan.

Cara apapun bisa dipakai Tuhan untuk memanggil kita.

Cara dipanggil tidak menentukan kualitas kehidupan. Yang menentukan kualitas adalah bagaimana seseorang menjalani kehidupan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Roh Kudus akan Menolong

Lalu, bagaimana dengan pengalaman seseorang yang mengaku dijumpai oleh mereka yang sudah meninggal?

Waspadalah, Iblis pun bisa menjelma menjadi malaikat terang.

Jika tubuh ini debu dan kehidupan kita adalah nafas kehidupan dari Allah, maka sudah seharusnya kita sadar diri dan bersyukur.

Jika tubuh ini lemah, itu sudah sewajarnya terjadi. Tubuh bisa sakit, kelelahan, tidak berdaya, aus oleh waktu: namun itu tidak menghalangi kita untuk terus melihat anugerah Tuhan, yang telah menganugerahkan nafas kehidupan bagi kita.

Tidak terlalu penting seberapa lama kita hidup; yang lebih penting adalah bagaimana kita hidup.

Jika Tuhan ijinkan lama, maka lihat itu sebagai kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Jika harus tidak lama, itupun adalah anugerah dari Tuhan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup Untuk Berkarya

Tuhan yang berhak menyatakan, "Cukup..", maka kita akan kembali kepada-Nya.

Kita perlu paham bahwa, 'dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Sebelum itu terjadi, mari kita memuliakan Tuhan dengan kehidupan kita. Amin.

Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved