Breaking News:

Berita Tanjabtim

Cerita Yasriwati, IRT di Tanjabtim Jadi Pengrajin Batik Sejak 2015, Kini Sudah Punya 20 Motif Khas

Dirinya mengatakan, menggeluti dunia batik tersebut mulai dilakoni sejak tahun 2015 lalu, dimana berawal dari kerajianan tas.

Tribunjambi/Abdullah Usman
Yasriwati, pengrajin batik di Tanjabtim. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Berbekal belajar secara autodidak Yasriwati atau ibu Yas (65), kini miliki 20 motif batik khas Tanjabtim.

Dikatakan wanita berusia (65) tahun tersebut, banyak perjalanan yang telah dilalui sebelum akhirnya kini mahir menjadi pengrajin batik, dan memiliki 20 motif batik khas Tanjabtim.

Dirinya mengatakan, menggeluti dunia batik tersebut mulai dilakoni sejak tahun 2015 lalu, dimana berawal dari kerajianan tas.

Baca juga: Aung San Suu Kyi Muncul di Sidang Setelah Digerebek Militer Awal Februari Lalu, Kemana Selama Ini?

Baca juga: Melihat Potensi Rawan Bencana, DPRD Muarojambi Dorong BPBD Menjadi Instansi Setingkat Eselon II

Baca juga: Tengah Hamil 7 Bulan, Wanita ini Terpaksa Menjadi PSK : Awalnya Saya Sempat Menolak

Bahkan sempat mendapat penghargaan sebagai pengerajin keterampilan dari gubernur jambi di era Zulkifli 2004.

Diakuinya beralih menjadi pembatik, karena bahan baku untuk membuat kerajinan dari lidi lidian dan tanaman rumbai mulai susah dicari. Ditambah banyak pula anak buah yang sudah berkeluarga dan pindah.

"Karena sudah menyukai seni, akhirnya mencoba seni membatik hingga akhirnya mendalami batik hingga saat ini," ujarnya, Senin (1/3/2021).

20 motif batik yang dimiliki saat ini diantaranya, batik bakau, kerang, nyumbun, perahu, jeruju dan lain sebagainnya. Semua motif tersebut diangkat dari kearifan lokal yang ada di Tanjabtim.

"Karena memang terbang banyak motif lokal yang cukup bernilai dan unik, untuk dituangkan dalam sebuah batik," ujarnya.

Dikatakannya pula, dalam pembuatan batik tersebut semua menggunakan batik cap, dengan menggunakan bahan cap yang ditempah dari jawa.

"Untuk pewarnaan ada dua jenis, sintetis dan alami, dari bahan alami lebih banyak menggunakan pewarnaan dari getah tanaman dan buah seperti kulit jengkol sabut kelapa, daun kayu mahoni. Ditambah bahan bahan khusus untuk menentukan kepekatan warna dan mengunci warna," jelasnya.

"Untuk pewarnaan alami memang sedikit lebih ribet, juga membutuhkan proses cukup lama dalam pembuatannya, bisa 7 kali celup. Berbeda dengan pewarnaan biasa lebih cepat," tambahnya.

Hanya saja, untuk pemasaran masih kurang, hanya mengandalkan pesanan dan ketika ada kegiatan besar baru ada peningkatan nilai jual.

"Untuk harga jual mulai dari Rp 170 sampai Rp 300 san. Pemasaran tergantung pesanan dan dititipkan di Dekranasda Provinsi," pungkasnya.

Penulis: Abdullah Usman
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved