Prancis Ramaikan Situasi di Laut China Selatan, Kirim Kapal Selam Nuklir untuk Awasi China

Prancis Ramaikan Situasi di Laut China Selatan, Kirim Kapal Selam Nuklir untuk Awasi China

Editor: Heri Prihartono
Twitter @Florence Parly
Unggahan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengumumkan mengenai patroli kapal selam nuklir Prancis di Laut China Selatan 

TRIBUNJAMBI.COM - Suasana di Laut China Selatan makin ramai setelah Prancis bergabung dengan militer Amerika Serikat (AS).

China akhirnya berhadapan dengan Prancis di Laut China Selatan.

Baru-baru ini AL Prancis kirim  armada perangnya ke perairan sengketa bersama Amerika Serikat.

Bahkan Prancis juga mempersiapkan kapal selam nuklirnya untuk memantau pergerakan AL China.

Selama ini Prancis diketahui tak ada kepentingan atas klaim Nine Dash Line China.

Mendadak Prancis turut meramaikan  Laut China Selatan.

Mengirimkan kapal selam serang nuklir Prancis SNA Emeraude dan melakukan patroli di Laut China Selatan.

 Menteri Pertahanan Prancis Florence Parlymengumumkan mengenai patroli kapal selam nuklir Prancis tersebut.

Armada Perancis berpatroli di Laut China Selatan
Armada Perancis berpatroli di Laut China Selatan (twitter)

Dilansir dari France24, stasiun televisi Prancis  dalam akun twitter-nya Parly mengungkapkan, kapal selam serang nuklir Prancis dengan nama SNA Emeraude termasuk di antara dua kapal angkatan laut yang baru-baru ini melakukan patroli melalui Laut Cina Selatan.

"Patroli luar biasa ini baru saja menyelesaikan perjalanan di Laut Cina Selatan. Bukti mencolok dari kemampuan Angkatan Laut Prancis kami untuk mengerahkan jauh dan untuk waktu yang lama bersama dengan mitra strategis kami yakni Australia, Amerika dan Jepang," demikian tweet Parly yang turut serta menyertakan sebuah gambar dua kapal di laut.

SNA Emeraude, disertai dengan kapal pendukung lainnya, telah berlayar sejauh 15.000 km di lepas pantai Prancis sebagai bagian dari misi Marianne yang sejak September 2020 berpatroli di zona Indo-Pasifik.

"Ini untuk menunjukkan bahwa kami masih hadir di sana secara militer," ungkap Jean-Vincent Brisset, Direktur Penelitian di Institut Hubungan Internasional dan Strategis (Iris) dalam wawancara dengan France 24.

"Itu adalah janji lama yang dibuat oleh Jean-Yves Le Drian ketika dia masih menjadi menteri pertahanan," ujar Brisset. Le Drian, Menteri Luar Negeri Prancis saat ini, menjadi menteri pertahanan dari tahun 2012 hingga 2017.

Tiongkok mengakui wilayah di Laut China Selatan merupakan wilayahnya. Sementara Taiwan, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Vietnam semuanya juga mengklaim sebagian dari kawasan itu, yang diyakini menyimpan cadangan minyak dan gas yang berharga.

Halaman
12
Sumber: Kontan
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved