Berita Kota Jambi

Mengenal Buzzer di Dunia Politik Menurut Akademisi, Praktisi dan Analis Jambi

Tribun Jambi mengadakan dialog dengan dua narasumber mengenai lebih mengenal buzzer dan buzzer di dunia politik.

Penulis: Rara Khushshoh Azzahro | Editor: Rahimin
tribunjambi/Rara Khushshoh Azzahro
Mojok Tribun Jambi, Selasa (16/2/2021). Mengenal Buzzer di Dunia Politik Menurut Akademisi, Praktisi dan Analis Jambi 

Mengenal Buzzer di Dunia Politik Menurut Akademisi, Praktisi dan Analis Jambi

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Rara Khushshoh Azzahro

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dalam dunia politik, pemanfaatan buzzer pasti ada.

Tribun Jambi mengadakan dialog dengan dua narasumber mengenai lebih mengenal buzzer dan buzzer di dunia politik.

Dialog menghadirkan dua akademisi. Yakni, Pahrudin, akademisi Universitas Nurdin Hamzah Jambi, dan Noviardi Ferzi, seorang praktisi dan analis Jambi. 

Pahrudin mengatakan, buzzer diambil dari kata buzz artinya mendengung.

Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Provinsi Jambi Menurun, Tercatat Sebesar 0,316

Kompol Ayani Jabat Wakapolres Sarolangun, Minta Dukungan Kapolres dan Semua Personil Kepolisian

Satgas Ilegal Driling Polda Jambi Periksa 79 Tersangka, 170 Ton BBM dan 67 Truk Diamankan

Singkatnya, buzzer yaitu orang-orang yang dibayar untuk menyuarakan kepentingan atau cita-cita pemesannya kepada publik.

"Siapa mereka? fenomena buzzer itu sebetulnya ada di ranah ekonomi. Marketing, di awalnya bagaimana suatu strategi marketing itu menjajakan produk, barang, jasa dari mulut ke mulut," ucapnya, Selasa (16/02/2021).

Sedangkan pada ranah politik yang tiba-tiba ada buzzer, ia sebut berarti ada penjajakan produk politik bisa itu kur, partai politik, dan produk politik lainnya.

Secara internasional, buzzer dilakukan di massa Barack Obama pada 2008.

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

Saat itu secara masif Obama memobilisasi media sosial maupun media online untuk mendukung kampanyenya pada Pilpres 2008.

Sedangkan di Indonesia, itu tidak terlepas dari demokratisasi.

Tadinya buzzer ini hanya digunakan untuk dikenal para elit. Namun pada era reformasi, menjadi berubah menjadi seolah harus dikenal oleh publik.

"Secara historis ini dilakukan pada masa Pilgub DKI Jakarta pada 2012 kalau nggak salah," kata Pahrudin.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved