Breaking News:

Mojok Tribun Jambi

Mojok Tribun Jambi Agung Septiap Alba, Pembalap Asal Bungo (2)

Sebagai putra kelahiran Muara Bungo, pria kelahiran 30 September 1996 itu mendirikan akademi dengan nama Agung Alba Kopi Paman Squad. Diantara peserta

Tribunjambi/darwin
Mojok Tribun Jambi Agung Septiap Alba, Pembalap Asal Bungo (2) 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO – Harapkan sirkuit permanen, Agung Septiap Alba, Pembalap asal Kabupaten Bungo berjanji akan lahirkan pembalap tingkat nasional dan Asia.

Keinginan adanya sirkuit permanen itu disampaikan Agung Septian Alba (22) pembalap asal Kabupaten Bungo pada acara Mojok Tribun Jambi edisi Kamis (11/2/2021) lalu.

Sebagai putra kelahiran Muara Bungo, pria kelahiran 30 September 1996 itu mendirikan akademi dengan nama Agung Alba Kopi Paman Squad. Diantara peserta yang kini berjumlah lima orang itu terdapat mantan pemain balap liar.

Baca juga: 30 Persen Dana Desa di Kerinci Tahun 2021 Diprioritaskan untuk Covid-19

Baca juga: Nongkrong Santai dengan Berbagai Minuman Signature Ala Soemantri Food and Beverage Jambi

Baca juga: 8 Kabupaten di Provinsi Jambi Dapat Program Bantuan Replanting Sawit, Targetnya 18 Ribu Hektare

Berikut perbincangan tribun jambi dengan Agung Septian Alba.

Tribun : Seperti apa perjalanan abang bisa sebagai pembalap ?

Narasumber : Jadi awalnya itu saya balapan sendiri, mulai dari bawah. Mulai dari sekolah, SMA. Merintis cukup lama, mulai dari jajan sekolah yang saya sisihkan buat balapan.Saya coba balapan di daerah Jambi terus merantau ke Pulau Jawa selama satu tahun. Dan disana saya muai dipanggil sama orang, mulai naik.

Setelah satu tahun balapan di Jawa pada tahun 2015, dan tahun 2016 saya pulang ke Sumatera saya dipanggil orang tua saya untuk melanjutkan pendidikan saya, kuliah. 2016 saya balapa disini lagi dan saat itu saya Alhamdulillah juara nasional regional sumatera. Tahun 2017 saya pindah naik kelas senior sampe sekarang.

Tribun : Sejak awal bagaimana keingininan abang ingin terjun ke lintasan, penari lintas ?

Narasumber : Dulu awalnya saya menjadi pemain bola, SD SMP saya main bola, main badminton. Jadi kebetulan kakak Agung pembalap juga.

Dia ngasih tau ke agung ‘Yaudah kamu pemain bola saja, nggak usah jadi pembalap’. Disitu saya merasa sedih, saya merasa drop, saya tidak dibolehin balap. Dan beberapa bulan kemudian saya dibolehin, coba latijhan. ‘Yaudah kamu balapan kalau mau balapan, Setelah dari sana saya semangat, latihan balapan, diajarin kakak. Kebetulan ada keturunan dari kakak.

Halaman
123
Penulis: Darwin Sijabat
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved