Kamis, 14 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Tanggapan Menteri Agama Saat Din Syamsuddin Disebut Radikal

Yaqut menegaskan, terkait dugaan pelanggaran Din Syamsuddin yang statusnya masih sebagai dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah J

Tayang:
Editor: Muuhammad Ferry Fadly

TRIBUNJAMBI.COM - Gus Yaqut, begitu kalangan santri meneyebut Yaqut Cholil Qoumas, meminta semua pihak agar tidak mudah memberikan label radikal terhadap seseorang atau kelompok. Tuduhan tak berdasar itu, berpotensi merugikan pihak lain.

“Kita harus seobjektif mungkin dalam melihat persoalan, jangan sampai gegabah menilai seseorang radikal misalnya,” kata Menteri Agama di Jakarta, seperti dikutip Tribunnews.com, Sabtu (13/02/2021).

Yaqut menegaskan, terkait dugaan pelanggaran Din Syamsuddin yang statusnya masih sebagai dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, sebenarnya sudah ada regulasi yang mengaturnya.

Baca juga: BEGINI Obati Sakit Kepala Migrain Tanpa Harus Minum Obat, Atasi dengan Cara Alami Ini

Baca juga: VIDEO Respon Tak Diduga Naki Saat Dayana Gadis yang Dicintainya akan Datang ke Indonesia

Baca juga: Cinta - Ramalan Zodiak Besok, Mungkin Virgo Sedang Menunggu Pernyataan Cinta atau Hadiah Bagus

Prosedur penyelidikan, telah diatur secara komprehensif oleh negara, antara lain melalui inspektorat maupun KASN (Komisi Aparatur Sipili Negara). Untuk itu, semua pihak untuk mendudukkan persolan secara proporsional.

Menurut Yaqut, jangan sampai ada kelompok yang mudah menyematkan predikat radikal kepada Din Syamsuddin.

"Persoalan disiplin, kode etik dan kode perilaku ASN sudah ada ranahnya. Namun, jangan sampai kita secara mudah melabeli Pak Din radikal dan sebagainya," kata Yaqut.

Stigma atau cap negatif itu, seringkali muncul karena terjadinya sumbatan komunikasi. Dirinya menegaskan pentingnya menciptakan pola komunikasi yang cair dan dua arah.

Stigma radikal bisa jadi muncul karena seseorang kurang memiliki informasi dan data yang memadai terhadap sikap atau perilaku seseorang.

“Dengan asumsi itu, maka klarifikasi atau tabayyun adalah menjadi hal yang tak boleh ditinggalkan dalam kerangka mendapat informasi valid," kata Yaqut.

Sebelumnya diberitakan, Din Syamsuddin yang juga mantan ketua MUI dilaporkan dengan tuduhan radikalisme. Kemudian melaporkan Din Syamsuddin ke KASN.

Mengutip Wartakotalive.com yang mewartakan bahwa Din Syamsuddin dilaporkan atas tuduhan radikalisme oleh Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB).

Atas laporan itu, sejumlah pihak pun mempertanyakan motif dari laporan tersebut. Diantaranya disampaikan Muhammad Said Didu melalui akun Twitternya menyebut tudingan itu, "sangat mengherankan dan tidak masuk akal."

Said Didu mencurigai, ada arahan untuk menjatuhkan Din Syamsuddin yang belakangan sering memberikan kritik terhadap pemerintah.

"Saya sangat heran dan sangat tidak masuk akal kalau ada pihak yg menuduh prof Dien Syamsuddin sebagai orang yang radikal. Atau apakah memang ada "arahan" bahwa semua orang yang tidak mau menjilat harus dituduh radikal dan dilaporkan?" tanya Said Didu melalui akun twitter-nya , Jumat kemarin.

Begitupula Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid memberikan pandangan terkait pelaporan itu. Ia mencontohkan, belum lama ini Prof Din Syamsudin baru saja menjadi pembicara Perayaan Al Azhar (Mesir) untuk Hari Persaudaraan Kemanusiaan se-Dunia.

Kegiatan itu merupakan even internasional untuk mengarus-utamakan moderasi menolak radikalismeyang diinisiasi oleh Syekh Al Azhar bersama Paus Fransiscus.

“Maka sangat tidak rasional dan aneh bila tokoh terhormat yang diterima dan dikenal luas sebagai antiradikalisme dan sangat moderat sekelas Prof Din itu malah dituduh radikal,” kata Hidayat di Jakarta melalui siaran pers.

Meski demikian, Hidayat Nur Wahid mengatakan, sewajarnya KASN berlaku selektif dengan memverifikasi laporan yang masuk untuk menjaga profesionalitas dan tidak membuang energi.

“Laporan terhadap Prof Din atas tuduhan radikalisme itu jelas tidak masuk akal,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menyebut bahwa tudingan tersebut justru menjadi pertanyaan. Dikatakan, selama ini DIn Syamsuddin dikenal sebagai tokoh yang menghormati keberagaman.

"Saya mengenal dekat Pak Din sebagai seorang yang sangat aktif mendorong moderasi beragama dan kerukunan intern dan antar umat beragama, baik di dalam maupun luar negeri," kata Mu'ti di Jakarta, Jumat lalu.

Dikatakan, Din Syamsudin merupakan tokoh yang menggagas konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah di PP Muhammadiyah, hingga akhirnya dijadikan sebagai keputusan resmi Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar.

Din Syamsuddin juga pernah menjadi utusan khusus Presiden untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban. Dalam menjalankan tugasnya itu, Din Syamsuddin telah memprakarsai dan menyelenggarakan pertemuan ulama dunia di Bogor, Jawa Barat.

Pertemuan tersebut melahirkan Bogor Message yang berisi tentang Wasatiyah Islam, Islam yang moderat.

Bogor Message adalah salah satu dokumen dunia yang disejajarkan dengan Amman Message dan Common Word. Selain itu, Dia Syamsuddin diketahui juga merupakan moderator Asian Conference of Religion for Peace (ACRP), dan co-president of World Religion for Peace (WCRP).

Abdul Mu'ti menambahkan, adapun kritikan yang dilayangkan DIn selama ini, merupakan bentuk tanggungawab sebagai tokoh bangsa.

"Kalau Pak Din banyak melontarkan kritik, itu adalah bagian dari panggilan iman, keilmuan, dan tanggung jawab kebangsaan. Kritik adalah hal yang sangat wajar dalam alam demokrasi dan diperlukan dalam penyelenggaraan negara. Jadi semua pihak hendaknya tidak anti kritik yang konstruktif," kata Mu'ti.

Dalam situasi negara yang sarat dengan masalah, Mu'ti berharap sebaiknya semua pihak berpikir dan bekerja serius mengurus dan menyelesaikan berbagai problematika kehidupan.

Semua pihak hendaknya tidak sesak dada terhadap kritik yang dimaksudkan untuk kemaslahatan bersama.

"Saatnya semua elemen bangsa bersatu dan saling bekerja sama dengan menyingkirkan semua bentuk kebencian golongan, dan membawa masalah privat ke ranah publik," ujarnya.

Sumber : Din Syamsudin Disebut Radikal, Ini Tanggapan Menteri Agama Gus Yaqut

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved