Breaking News:

Warga Bangladesh di Kerinci Dideportasi, Mengaku Kehilangan Tas Berisi Dokumen

Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kerinci akan melaksanakan Tindakan Administratif Keimigrasian (TAK) berupa Pendeportasian dan

Herupitra
Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kerinci akan melaksanakan Tindakan Administratif Keimigrasian (TAK) berupa Pendeportasian dan Penangkalan terhadap satu orang WN Bangladesh dengan inisial MD Rafiqul Islam. 

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kerinci akan melaksanakan Tindakan Administratif Keimigrasian (TAK) berupa Pendeportasian dan Penangkalan terhadap satu orang WN Bangladesh dengan inisial MD Rafiqul Islam.

MD telah terbukti melanggar pasal 78 ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian yaitu, Orang Asing pemegang Izin Tinggal yang telah berakhir masa berlakunya dan masih berada dalam Wilayah Indonesia lebih dari 60 (enam puluh) dari batas waktu Izin Tinggal, dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berupa Deportasi dan Penangkalan.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kerinci, Raden Indra mengatakan bahwa MD Kamis (28/1) malam akan diberangkatkan ke Jambi menuju Jakarta.

"Sesampai di Jambi MR akan di-swab pada Sabtu dan Minggu akan diterbangkan ke Jakarta," kata Raden Indra, Kamis sore (28/01).

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kerinci menyebutkan, pada 2017 yang lalu MD datang ke Indonesia untuk menemui istri dan anaknya yang tinggal di Kabupaten Kerinci. Raden menambahkan, MD masuk ke Indonesia menggunakan pasport Bangladesh melalui pelabuhan di Dumai mengunakan jasa calo dengan biaya 900 Ringgit dengan kesepakatan termasuk pengurusan izin tinggal di Indonesia dan biaya dari Malaysia sampai Kerinci.

"Sesampai di pelabuhan Dumai, agen langsung mengarahkan MD ke travel yang akan mengantarkan ke Kerinci. Saat memasuki travel, tas MD yang berisikan dokumen ditahan oleh agen tersebut dan sebelum berangkat ke Kerinci, agen mengatakan tas tersebut sudah dimasukkan ke dalam mobil, sesampai di Kerinci MD melihat tas tersebut tidak ada, saat dihubungi nomor HP agen tersebut tidak aktif lagi," jelasnya.

Takut tidak memiliki dokumen Keimigrasian lanjut Raden, MD dan keluarga istri memutuskan selama tinggal di Kerinci untuk mengganti nama panggilan menjadi MR.

"Selama tinggal di Kerinci MR bekerja sebagai petani dan buruh bangunan dan tidak memiliki Dokumen Kepedudukan Indonesia," ungkap Raden.

Lebih jauh Raden menyebutkan, keberadaan MR diketahui setelah mendapat laporan dari masyarakat dan intelijen melakukan investigasi serta mengumpulkan data. Selama pemeriksaan MR dan keluarga kooperatif, sehingga memudahkan tim memprosesnya.

"Untuk persyaratan dokumen MR kembali ke Bangladesh, kita sudah berkoordinasi dengan kedutaan besar Bangladesh di Indonesia, Jakarta untuk penerbitan travel dokumen sementara MR sebagai pengganti pasport kewarganegaraan Bangladesh," pungkasnya.

Penulis: Herupitra
Editor: Fifi Suryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved