Bupati Sleman Dinyatakan Positif Covid-19, Padahal 7 Hari yang lalu Sang Bupati di Vaksinasi
Namun, setelah tujuh hari suntik vaksin covid-19, kini Bupati Sleman Sri Purnomo positif covid-19.
TRIBUNJAMBI.COM - Sebagian jumlah pejabat di negeri ini sudah dengan sukarela menyediakan diri sebagai penerima vaksin.
Namun, walau telah dilakukan vaksin, kalau Allah berkehenndak, masih saja ada yan terpapar virus corona.
Seperti halnya yang diwartakan WARTAKOTALIVE.COM, Bupati Sleman Sri Purnomo telah menjalani tujuh hari setelah suntik vaksin covid-19.
Namun, setelah tujuh hari suntik vaksin covid-19, kini Bupati Sleman Sri Purnomo positif covid-19.
Baca juga: Berikut Adalah Deretan Zodiak yang Dikenal Paling Cerdas, Bahkan Diatas Rata-rata
Baca juga: Karier - Ramalan Zodiak Hari ini, Taurus Perlu Menurunkan Ambisinya Lebih Rendah
Baca juga: Sebut Tak Temukan Alat Bukti yang Cukup, Polisi Hentikan Kasus Raffi Ahmad
"Bapak Bupati saat ini melakukan isolasi mandiri, karena hasil antigen kemarin (Rabu) reaktif kemudian hasil swab PCR hari ini (Kamis) positif," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Harda Kiswaya, dihadapan awak media, saat menggelar Jumpa Pers, Kamis (21/1/2021) sore dikutip dari TribunJogja.
Lebih detail tentang ihwal Bupati Sleman positif diceritakan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo.
Menurut dia, Bupati Sri Purnomo pada Selasa (19/1/2021) malam, sempat merasakan batuk-batuk dan suhu tubuhnya tinggi mencapai 37.6 derajat.
Lalu, hari Rabu dilakukan tes antigen dengan hasil positif.
Keesokan harinya-- untuk meyakinkan diagnosa--dilakukan uji swab Polymerase Chain Reaction (PCR).
"Siang hari tadi sudah keluar, ternyata positif," ujar dia.
Joko mengatakan, kondisi Bupati sebelumnya hanya demam ringan dan batuk ringan, tidak terlalu berat.
Bahkan, telah dilakukan uji thorax dan CT scan thorax hasilnya paru-paru dalam keadaan bersih.
Artinya, kata dia, tidak ada tanda pnemounia.
"Secara fisik semuanya bagus. Saat ini beliau memilih untuk Isolasi mendiri di umah dinas. Sesuai anjuran pemerintah pusat, pasien tanpa gejala cukup Isolasi di rumah," jelas dia.
Soal Vaksinasi
Joko mengungkapkan, Bupati Sri Purnomo merupakan salah satu tokoh yang mendapat suntikan vaksin Sinovac tahap pertama di Sleman.
Saat divaksin, kondisi Bupati saat itu dalam keadaan baik.
Menurutnya, tensi menunjukkan hasil bagus dan tidak ada riwayat kispa dalam sepekan terakhir.
Sehingga, memenuhi syarat untuk disuntik Vaksin.
Vaksin diberikan dua kali. Tahap pertama dan kedua.
Joko mengatakan, pemberian vaksin tahap pertama belum memberikan efek kekebalan atau antibodi belum terbentuk memadai sehingga harus dilakukan penyuntikan tahap kedua.
Jeda waktunya minimal 14 hari dari penyuntikan pertama.
Penyuntikan vaksin tahap kedua berfungsi sebagai booster atau penguat.
Sehingga ketika vaksin sudah diberikan dua kali, kata dia, maka akan membentuk kekebalan tubuh secara optimal.
"(Bupati) bukan menjadi positif gara-gara vaksin. Tetapi kebetulan saja seminggu lalu divaksin dan hari ini positif," kata Joko, sembari menjelaskan bahwa kekebalan tubuh memiliki kurva. Pada penyuntikan vaksin tahap pertama, kekebalan tubuh baru akan naik, kemudian ketika disuntik vaksin tahap kedua maka kekebalan tubuh akan mencapai puncaknya.
Ia menjelaskan, orang yang telah disuntik vaksin dengan orang yang tidak disuntik vaksin ketika terpapar virus Corona, terdapat perbedaan pada gejala.
Di mana yang disuntik vaksin tidak bergejala berat.
"Karena virusnya yang masuk itu lebih sedikit dibanding yang belum divaksin," terang dia.
Pemerintahan
Sekda Sleman Harda Kiswaya mengungkapkan, kondisi Bupati Sri Purnomo saat ini dalam keadaan baik.
Masuk dalam kategori Orang Tanpa Gejala (OTG).
Sehingga, meskipun dinyatakan positif corona dipastikan masih tetap bisa memimpin roda Pemerintahan Kabupaten Sleman.
"Hanya memang dilakukan secara daring, karena melakukan isolasi mandiri di rumah dinas," tutur Harda. Menurutnya, warga masyarakat masih bisa melakukan hubungan dengan Bupati melalui daring, ataupun via telfon.
Sementara itu, Bupati Sleman, Sri Purnomo melalui media sosial-nya juga sudah memberikan keterangan mengenai kabar dirinya yang dinyatakan positif covid-19.
Ia mengatakan, saat ini dalam kondisi sehat.
Tidak ada gejala apapun. Pihaknya mengimbau kepada warga masyarakat, untuk selalu mematuhi Protokol Kesehatan. Memakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak.
"Mudahan-mudahan dengan disipilin prokes maka covid-19 ini bisa segera selesai," harap Sri Purnomo.
Vaksinasi Mandiri
Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mengatakan, bahwa Pemerintah Indonesia membuka peluang penyelenggaraan vaksinasi Covid-19 secara mandiri.
Banyak pengusaha di Tanah Air yang meminta agar vaksinasi bisa digelar mandiri sehingga biayanya ditanggung perusahaan.
"Banyak dari perusahaan bertanya kepada saya, Pak bisa nggak kita vaksin mandiri? Ini yang baru kita akan putuskan, karena kita perlu mempercepat, perlu sebanyak-banyaknya (vaksinasi) apalagi biaya ditanggung perusahaan sendiri, kenapa tidak,” ungkap Jokowi saat acara 11th Kompas100 CEO Forum yang dilakukan secara virtual, Kamis (21/1/2021).
Menurut Jokowi, jika vaksinasi mandiri direalisasikan, merek yang akan digunakan kemungkinan berbeda dari vaksin yang digratiskan pemerintah.
Ada kemungkinan pula vaksinasi dilakukan di tempat yang berbeda dengan yang telah pemerintah tentukan.
Namun demikian, Jokowi menegaskan bahwa hal ini masih menjadi wacana dan belum diputuskan.
"Tetapi sekali lagi, harus kita kelola isu dengan baik,” ucapnya.
Sementara, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam kesempatan yang sama mengingatkan para pemimpin perusahaan bahwa vaksin Covid-19 ditujukan untuk seluruh kelompok masyarakat dan tidak dapat mendahulukan golongan ekonomi tertentu.
“Saya yakin para CEO ingin dapat akses lebih dulu dan Anda mampu untuk dapat itu, tetapi tolong pikirkan seluruh rakyat Indonesia, karena tidak ada gunanya juga kita disuntik, kalau yang lain tidak,” ujarnya.
Indonesia pesan 600 juta vaksin
Saat ini, pemerintah Indonesia telah mengamankan sekitar 600 juta dosis vaksin bagi 188 juta orang. Artinya, sudah lebih dari 150 persen mencukupi target.
“Sampai sekarang kita sudah memiliki secure commitment delivery sekitar 300 juta vaksin, dan kita juga memiliki opsi delivery, jadi produksinya sudah firm, tapi deliverynya masih opsi sekitar 300 juta vaksin. Jadi kita sudah memiliki coverage 600 juta vaksin atau sekitar 150 persen dari targetnya kita,” ujar Budi.
Budi menambahkan, 600 juta vaksin tersebut berasal dari produsen yang berbeda.
Misalnya adalah Sinovac dari China, AstraZeneca dari Inggris, Pfizer dari Amerika Serikat dan Jerman, serta Novavax dari Amerika Serikat.
“Jadi empat yuridiksi secara geo politik juga kita lebih nyaman narasinya, empat sumber berbeda dengan teknologi berbeda juga. Saya ingin sampaikan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang berhasil mensecure jumlah vaksinnya dengan cepat dan aman,” ucap dia.
Menurut Budi, Indonesia cukup beruntung dapat mengamankan vaksin sebesar itu.
Pasalnya, banyak negara berpendapatan rendah yang tersikut oleh negara kaya yang mampu memberikan profit lebih besar kepada produsen vaksin.
“Sehebat, sekaya apapun negara beli vaksin untuk negaranya, kalau orang lain di sekitar negaranya tidak divaksin dan tidak dibantu, pergerakan manusia pasti ada. Kecuali, orang di negaranya tidak boleh ke luar negeri, jadi kemungkinan penularan pasti ada,” ungkapnya.
Jadwal vaksinasi
Perlu diketahui, pemerintah telah menjadwalkan vaksinasi pada Januari - Februari untuk 1,4 juta tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.
Selanjutnya, sebanyak 17 juta golongan pekerja publik akan dimulai pada Maret - April dan lansia sekitar 25 juta. Adapun masyarakat umum akan mulai mendapat suntikan vaksin pada akhir April atau Mei.
“Kenapa kita pilih tenaga kesehatan duluan, karena mereka yang kena resiko paling besar, mereka bisa sakit duluan. Kemudian pekerja publik, karena mereka bekerja melayani masyarakat, TNI-POLRI harus selalu keluar makannya kita suntik duluan, kemudian orang tua karena mereka beresiko tinggi, lalu masyarakat masuk. Jadi mohon pengertiannya bahwa kita akan lakukan penyuntikkan untuk publik antara akhir April sama Mei,” jelas Budi.
21 Rumah Sakit Rujukan KIPI
Pemerintah Provinsi (Peprov) DKI Jakarta menyiapkan sebanyak 21 rumah sakit rujukan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) vaksin covid-19.
Yaitu 21 rumah sakit rujukan yang disediakan jika warga yang telah suntik vaksin covid-19 mengalami gejala medis.
Informasi 21 rumah sakit rujukan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) vaksin covid-19 itu disampaikan melalui akun Instagram @dkijakarta.
"Terdapat beberapa kondisi atau gejala yang mungkin terjadi setelah vaksinasi covid-19 yang disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Pemprov DKI Jakarta menyiapkan rumah sakit rujukan untuk warga yang mengalami KIPI," tulisnya.
KIPI merupakan kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, menjadi perhatian, dan diduga berhubungan dengan imunisasi.
"Dinas Kesehatan DKI bersama Komda PP (Komite Daerah Pengkajian dan Penanggulangan) KIPI telah mempersiapkan tim yang akan melakukan monitoring dampak pascavaksinasi di setiap tingkatan administrasi," tulisnya.
Berikut daftar 21 rumah sakit rujukan KIPI vaksinasi covid-19 di Jakarta:
Jakarta Pusat:
- RSUD Tarakan
- RSUP Cipto Mangunkusumo
- RSPAD Gatot Subroto
- RSUD Johar Baru
- RSUD Kemayoran
Jakarta Utara:
- RSUD Koja
- RSUD Cilincing
- RSUD Tanjung Priok
Jakarta Barat:
- RSUD Tamansari
- RSUD Kembangan
Jakarta Selatan:
- RSUP Fatmawati
- RSP Pertamina
- RSUD Tebet
- RSUD Mampang Prapatan
- RSUD Jagakarsa
- RSUD Pesanggrahan
Jakarta Timur:
- RSUD Budi Asih
- RSUD Pasar Rebo
- RSUD Matraman
- RSUD Cipayung
- RS Adhyaksa
Tidak ada efek samping
Genap delapan hari sejak pelaksaan vaksinasi Covid-19 disuntikkan ke lengan orang nomor satu di republik ini, Presiden Jokowi, hingga saat ini tidak ada efek samping dari vaksin Sinovac.
Sebagaimana diketahui, tanggal 13 Januari 2021 menjadi hari pertama dimulainya program vaksinasi Covid-19 di Indonesia.
Dan orang pertama yang diberi vaksin Sinovac adalah Presiden Jokowi, kemudian berturut para pejabar negara, dan para figur publik di Istana Merdeka.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, hingga saat ini tidak ada efek samping dari vaksinasi Covid-19 di Jakarta.
"Pak presiden, para gubernur, bupati, wali kota dan para tokoh sudah melaksanakan, memberikan contoh dan teladan. Sejauh ini vaksin yang diberikan tidak masalah, tidak ada efek samping," kata Riza di Balai Kota Jakarta, Selasa (19/1/2021).
Riza berharap, dengan telah dan sedang dilakukan vaksinasi tahap pertama untuk tenaga kesehatan dan para pejabat, proses vaksinasi berikutnya bisa berjalan lancar.
Terlebih orang yang sudah disuntik vaksin Sinovac akan disuntik kembali untuk kedua kalinya dalam selang waktu 14 hari.
"Mudah-mudahan bisa lancar, vaksin kedua dan seterusnya seluruh warga yang memang berhak dan harus divaksin bisa segera mendapatkan," kata Riza.
Vaksinasi Covid-19 di Jakarta tahap pertama ditargetkan kepada 131.000 tenaga kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan DKI Jakarta.
Setiap penerima akan diberikan dua dosis vaksin Covid-19 dalam selang waktu 14 hari sehingga dibutuhkan kurang lebih 262.000 vaksin Sinovac untuk penyuntikan tahap pertama bagi tenaga kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Widyastuti mengungkapkan, Pemprov DKI Jakarta baru mendapatkan 120.040 vaksin Sinovac dari pemerintah pusat dan sedang disuntikan kepada 60.000 tenaga kesehatan dan 20 tokoh publik.
Widyastuti mengungkapkan pihaknya masih menunggu tambahan vaksin Covid-19 karena DKI Jakarta masih membutuhkan 142.000 vaksin Sinovac untuk disuntikan kepada 71.000 tenaga kesehatan pada tahan pertama ini.
"Sesuai ketentuan bapak presiden, program vaksinasi Covid-19 menjadi tanggung jawab pemerintah (pusat)," ujar Widyastuti beberapa waktu lalu.
Pemprov DKI Jakarta menargetkan 7.610.198 warga DKI diberikan vaksin Covid-19 sehingga kekebalan komunal (herd immunity) bisa tercapai. Setelah 131.000 tenaga kesehatan, kelompok berikut yang menjadi penerima vaksin adalah pelayan publik dengan jumlah sekitar 500.000 orang.
Pemprov DKI juga sudah menyiapkan 488 faskes terdaftar di P-Care BPJS sebagai tempat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang mencakup RSUD, RS vertikal/TNI/Polri, RS swasta, Puskesmas dan klinik pemerintah atau swasta.
Kapasitas penyutikan vaksin di DKI Jakarta cukup besar sehingga bisa dilakukan kurang dari sepekan untuk 60.000 tenaga kesehatan.
Namun, harus jeda 14 hari untuk disuntikan vaksin yang kedua.
"Lalu, kelompok yang rentan secara geospasial maupun ekonomi ada tiga jutaan lebih, kelompok usaha dua jutaan lebih dan juga kelompok lansia," katanya.
Memang ada informasi dari Kementerian Kesehatan, selain umur 18 sampai 59 tahun, ada kelompok lansia tertentu yang bisa diberikan vaksin. "Itu sebanyak 980.000 lebih," kata dia.
"Kita juga sudah menyiapkan 1.498 vaksinator dengan kapasitas penyuntikan sebanyak 19.741 target vaksin per hari," kata Widyastuti. (Antaranews/dip/Rif)
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Tujuh Hari Setelah Divaksin, Hari Ini Bupati Sleman Sri Purnomo Umumkan Dirinya Positif Covid-19
Sumber : 7 Hari Setelah Suntik Vaksin, Bupati Sleman Sri Purnomo Positif Covid-19,