Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Kasih Allah yang Tanpa Syarat
Bacaan ayat: Yohanes 3:16 (TB) - Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap
Kasih Allah yang Tanpa Syarat
Bacaan ayat: Yohanes 3:16 (TB) - Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Ketika Paijo dan Pariyem jatuh cinta dan diwawancarai oleh media infotainment, maka wawancara itu agar berlangsung demikian:
M (Media) : Mas Paijo, kami dengar kabar burung bahwa Anda sudah tertambat hati pada Pariyem dan memutuskan untuk menikah. Kira-kira apa yang membuat Anda mengambil keputusan ini?
Pj (Paijo) : Itu bukan kabar burung, kami sudah saling mengenal cukup lama, akhirnya berpacaran dan memutuskan untuk menikah.
Alasan utama saya memutuskan untuk menikah, karena dia adalah gadis terbaik yang saya jumpai.
Dia adalah bidadari tanpa sayap. Setiap kata dari bibirnya adalah merdu untuk didengar.
Cara berfikirnya maju, tidak ketinggalan zaman. Dia akan menjadi pendamping yang sangat setia.
M: Bagimana dengan Mbak Pariyem?
Py (Pariyem): (Sambil melirik manja pada Paijo) Dia seorang pangeran bagi saya.
Seorang pengayom, pelindung dan menjaga yang akan membuat rasa nyaman kehidupan saya. Gagah dan tampan, membuat saya akan percaya diri saat berjumpa dengan rekan kerja.Dia segala-galanya bagi saya.
Ataukah, Paijo dan Pariyem akan menjawab seperti ini:
Pj: Dia gadis terburuk yang pernah saya temui, maka saya kasihan padanya. Rasanya tidak ada yang baik dalam dirinya. Selama menjalin hubungan, dia pemarah, suka iri hati dan selalu menekan saya, bahkan membujuk saya untuk korupsi demi kepusannya berbelanja. Maka saya memutuskan menikah dengannya.
Py: Dia pria yang paling tidak bertanggung-jawab. Kasar, perkataan kotor menghias bibirnya saat marah, tangannya mudah melayang untuk menyakiti saat keinginannya tidak dituruti. Dia pria terjelek dari deretan pria yang menyatakan cintanya kepada saya. Maka saya memutuskan untuk menerima dia sebagai suami saya.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Sejak Kapan Allah Merencanakan Penyelamatan?
Merenungkan dua kemungkinan jawaban Paijo dan Pariyem untuk menikah dan berjanji untuk mengasihi, setiap kita setuju bahwa kemungkinan pertama akan menjadi pilihan.
Para orang tua yang tahu anaknya akan menikah didasarkan pada alasan kedua, pasti akan berang dan tidak setuju; menolak dengan keras dan tidak akan merestui.
Mari kita mencoba memahami cara Tuhan dalam mengasihi.
Injil Yohanes memberikan pernyataan penting tentang alasan Allah dalam menyelamatkan, yaitu karena Dia sangat mengasihi dunia ini.
Pertanyaannya, bagaimana kondisi dunia ketika Allah mengasihinya?
Apakah dunia itu baik, sebaik yang dibayangkan oleh Paijo dan Pariyem ketika mengambil keputusan untuk menikah?
Apakah dunia itu penuh dengan ketaatan?
Kita harus merenung sejenak, dan tertunduk malu karena faktanya dunia itu jahat.
Berawal dari ketidaktaatan Adam dan Hawa, meluas pada rusaknya cara berfikir manusia.
Relasi manusia dengan Allah menjadi rusak, diikuti rusaknya hubungan dengan sesama, berlanjut pada rusaknya hubungan dengan alam, bahkan dengan diri sendiri pun banyak didapati manusia yang tidak bisa menerima dirinya sebagai anugerah terbaik yang sudah Allah berikan.
Alkitab sarat dengan cerita berulang tentang pemberontakan, pengkhianatan, pembunuhan, penipuan, pementingan diri sendiri, egois, kebencian, ketamakan, keserakan, sumpah palsu, hujat, perkataan kotor, saling menghina: dan berderet-deret kejahatan yang terjadi setiap waktu.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hindarkanlah Diri dari Kebiasaan Menghakimi Sesama
Adakah pengharapan dalam situasi ini?
Bersyukurlah, jika ada berita besar yang mewartakan pengharapan, bahwa Allah sangat mengasihi dunia ini.
Inilah yang menjadi alasan kuat bagi Allah untuk berkarya menyelamatkan, dengan kerelaan menjadi manusia dalam Yesus Kristus.
Mungkinkah Allah menjadi manusia? Jawabannya, pasti sangat bisa dan mampu.
Bukankah Allah itu Mahakuasa?
Dalam kemahakuasaan-Nya, Allah dalam Firman-Nya menjadi manusia dalam daging, yaitu Yesus Kristus.
Kedatangan-Nya dalam rangka membereskan kejahatan dan hukuman dosa yang harus ditanggung oleh manusia.
Dengan mati dan bangkitnya Yesus Kristus, maka dosa tidak berkuasa lagi atas manusia; yang percaya kepada-Nya.
Oleh sebab itu, jangan biarkan Iblis untuk kembali mendakwa kita bahwa kita masih berbuat dosa dan tidak layak untuk membangun kehidupan yang benar.
Mari kita rayakan kasih Allah ini dalam peristiwa Natal: firman yang menjadi daging.
Kasih Allah tanpa syarat. Siapapun kita, hanya perlu percaya, untuk menerima penebusan dalam Yesus Kristus. Amin.
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18112020_feri-nugroho.jpg)