Breaking News:

Berita Tanjab Timur

Abrasi di Desa Kelurahan Simpang Tanjabtim Mengkhawatirkan, Tiap Tahun Jadi Langganan Banjir

Abrasi yang terus mengancam warga Desa Kelurahan Simpang tersebut semakin mengkhawatirkan, selain di beberapa sisi terlihat retakan dan tanah amblas.

Penulis: Abdullah Usman
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/Abdullah Usman
Abrasi di Desa Kelurahan Simpang Tanjabtim Mengkhawatirkan, Tiap Tahun Jadi Langganan Banjir 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Ancaman abrasi di Desa Kelurahan Simpang, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjabtim belum menemukan solusi.

Abrasi yang terus mengancam warga Desa Kelurahan Simpang tersebut semakin mengkhawatirkan, selain di beberapa sisi terlihat retakan dan tanah amblas. Lokasi tersebut hampir setiap tahunnya menjadi langganan banjir.

Pemerintah desa dan kecamatan sejatinya telah melakukan beberapa usulan, hingga pengajuan untuk di bangun turap agar pergerakan tanah dapat tertahan dan tidak tergerus ke dasar sungai.

Baca juga: Konspirasi Donald Trump Jelang Pelantikan Presiden AS Januari 2021, Bahayakan Amerika

Terkait hal tersebut, Dinas PUPR Tanjabtim melalui Kepala Bidang Pengairan, Dedi Novrianika kepada Tribunjambi.com beberapa waktu lalu mengatakan, pihaknya sendiri telah menindaklanjuti usulan pihak Desa Kecamatan tersebut dengan melaporkan ke pihak balai (BWSS).

"Dua tahun yang lewat kita sudah mengusulkan ke balai (BWSS), namun berdasarkan penjelasan pihak balai mereka juga sudah meneruskan ke Kementrian. Hanya saja usulan tersebut belum disetujui oleh pihak Kementrian," ujarnya belum lama ini.

Lanjutnya, ketika ditanya terkait alasan Kementrian tidak menyetujui, karena setelah melalui kajian di Kelurahan simpang tersebut dilihat dari energi arus lautnya cukup deras yang membutuhkan penanganan super super mahal.

Baca juga: VIDEO Dishub Kota Jambi Tambah Tujuh ATCS Baru, Traffic Light Diatur Lewat COC

"Setelah dihitung jika memang dianggarkan untuk pembangunan turap atau semacamnya di kawasan tersebut, dan dibandingkan dengan misal relokasi masyarakat. Tentu akan lebih murah relokasi tadi," jelasnya.

"Relokasi tadi sudah termasuk tempat tinggal dan tanah yang bersangkutan tadi, permasalahannya apakah mereka mau meninggalkan lokasi mereka saat ini," tambahnya.

Selain itu Pemerintah Kementrian juga memiliki aturan yang harus diketahui juga terkait jarak sempadan sungai. Yang sesuai Kementrian itu jaraknya 100 meteran untuk sungai besar, sungai kecil lintas kabupaten lebih kurang 50 meter.

Baca juga: Kontrak PetroChina di Blok Jabung Akan Berakhir, Sekda Provinsi Jambi: Keputusan Tahun Depan

"Jadi antara rumah warga dan sungai itu harus ada jarak tidak langsung bertemu antara bibir sungai dan rumah. Kalo di sana kan kenyataannya tidak seperti itu," ujarnya.

Meski demikian bukan berarti Kelurahan simpang tidak dapat diselamatkan dari ancaman abrasi. Ada beberapa solusi yang mungkin bisa dilakukan salah satunya melalui peran anggota DPR setempat untuk dapat memperjuangkan di tingkat pusat.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved