Breaking News:

Berita Kerinci

Disebut Halangi Pekerjaan Bandara Kerinci, Ini Kata Kades Agung Koto Iman

Dikatakannya, dirinya justru sangat mendukung pekerjaan bandara yang pintu masuknya di wilayah desa Agung Koto Iman, Kecamatan Tanco. Sebab dengan ada

ist
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Kades Agung Koto Iman, Rengki Andika angkat bicara terkait tuduhan bahwa dirinya menghalangi pekerjaan Bandara Depati Parbo Kerinci. Ia mengku, tidak pernah sama sekali menghalangi pekerjaan tersebut.

Dikatakannya, dirinya justru sangat mendukung pekerjaan bandara yang pintu masuknya di wilayah Desa Agung Koto Iman, Kecamatan Tanco. Sebab dengan adanya bandara, membuat desa yang dipimpinnya bisa lebih maju dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Tidak pernah saya bersama staf saya melarang pekerjaan bandara," ungkapnya.

Baca juga: 11 Kecamatan di Kota Jambi Sudah Menyelesaikan Pleno

Baca juga: Update Harga Sembako di Jambi Senin (14/12/2020), Cabai Merah Terus Turun Harga

Baca juga: Banjir Usai Hujan di Kota Jambi, Dinas PUPR: Luas Wilayah 150 Km Jadi Pekerjaan Berat Saat Ini

Ia menyesalkan atas tuduhan yang disampaikan oleh Suryadi yang mengaku sebagai ketua Ordum Tanco di salah satu media online.

"Ini telah merusak nama baik saya sebagai kades," sesalnya.

Dijelaskannya, bahwa pada Jumat (11/12), pemuda dua desa Agung Koto Iman dan Koto Iman mengelar unjuk rasa di lokasi pekerja lapter bandara. Saat unjuk rasa berlangsung, dirinya yang saat itu berada di rumah ditelepon oleh pengawas pekerjaan bandara agar segera datang ke lokasi karena ada unjuk rasa.

Di lokasi dirinya berusaha menenangkan massa, sebelum akhirnya aparat ke polisian datang ke lokasi. Setelah negosiasi dengan pendemo, maka dilakukan mediasi di kantor desa Agung Koto Iman.

Dalam mediasi tersebut, para pengunjuk rasa meminta agar pengangkutan meterial diberhentikan sementara sebelum tuntutan para pengunjuk rasa dikabulkan.

"Saya bersama Kapolsek Danau Kerinci justru memediasi para pengunjuk rasa dengan pihak yang melakukan pekerjaan. Tapi kok saya yang dituduh menghalangi," ucapnya.

Diketui pada Jumat sore puluhan pemuda dua desa Agung Kota Iman dan Koto Iman mengelar unjuk. Mereka membakar ban hingga membuat jalanan macet beberapa saat.

Pendemo menyampaikan, bahwa pekerjaan proyek pembangunan bandara tidak memperhatikan pemuda dan masyarakat setempat.

Pumuda hanya diperkerjakan sebagai tukang ronda dan mengatur lalu lintas. Tidak sesuai dengan janji saat awal memulai pekerjaan.

Selain itu dari pekerjaan yang dilakukan warga hanya terkena dampak buruk saja. Setiap hari warga makan debu dari aktifitas pengangkutan meterial oleh truk.

"Kami hanya makan debu saja setiap hari," ujar para pengunjuk rasa.

Penulis: Herupitra
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved