Breaking News:

Mengejar Target Inklusi dan Literasi Keuangan di Provinsi Jambi, Cari Peluang di Era Digital

Untuk itu, keuangan yang inklusif akan memberi dampak baik kepada masyarakat, di antaranya mengurangi angka kemiskinan.

Editor: Edmundus Duanto AS
Istimewa
Ilustrasi uang digital. 

*Oleh: Mareza Sutan Ahli Jannah

BELUM maksimalnya akses keuangan di berbagai tempat menjadi satu di antara penyebab terbatasnya partisipasi masyarakat Provinsi Jambi dalam meningkatkan tingkat inklusi keuangan.

Padahal, lembaga keuangan memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian setiap masyarakat.

Untuk itu, keuangan yang inklusif akan memberi dampak baik kepada masyarakat, di antaranya mengurangi angka kemiskinan.

Pada era digital, proses tersebut kian berkembang.

Hanya saja, belum semua masyarakat dapat berpartisipasi dalam mewujudkan target inklusi dan literasi keuangan.

Meski begitu, upaya mendorong masyarakat untuk ambil peran di sini bisa menjadi salah satu yang bisa dilakukan untuk menggenjot inklusi dan literasi keuangan di Provinsi Jambi.

Bank Indonesia (2014) mendefinisikan inklusi keuangan sebagai suatu kegiatan menyeluruh yang bertujuan untuk menghilangkan segala bentuk hambatan, baik dalam bentuk harga mau pun nonharga terhadap akses masyarakat dalam menggunakan dan memanfaatkan layanan jasa keuangan.

Lebih lanjut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Peraturan OJK nomor 76/POJK.07/2016 menjelaskan, inklusi keuangan adalah ketersediaan akses pada berbagai lembaga, produk, dan/atau layanan jasa keuangan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved