Breaking News:

Pembeli Hanya Berani Bayar Rp6.000/Kg, Produksi dan Kualitas Jengkol Tanjab Timur Menurun

Hasil panen jengkol tidak sesumringah tahun sebelumnya, para petani berharap musim depan jauh lebih baik. Meski kondisi hasil buah jengkol

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Fifi Suryani
Tribunjambi/Abdullah Usman
Petani jengkol di Kabupaten Tanjabtim sedang memanen buah jengkol. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Hasil panen jengkol tidak sesumringah tahun sebelumnya, para petani berharap musim depan jauh lebih baik. Meski kondisi hasil buah jengkol di petani musim ini cenderung anjlok, mulai dari kualitas buah, harga, hingga permintaan pasar. 

Abdul Kadir, satu dari petani jengkol di Kecamatan Sabak Timur menuturkan, tahun ini memang terjadi penurunan terutama dari buah yang dihasilkan. Jauh berbeda jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.

"Tahun lalu kemarau panjang dan parah, tetapi buah jengkol lebih banyak dan melimpah. Kalau tahun ini justru sedikit bahkan ada juga pohon yang tidak berbuah," ujarnya, Rabu (30/9).

"Jika tahun lalu bisa panen atau menjual hingga berkali-kali, bahkan hitungan ton. Kalau sekarang paling kencang 3 kali jual. Itupun sudah ngasak (buah sisa)," tambahnya.

Para petani tidak mengetahui pasti penyebab produksi buah tahun ini menjadi minim. Jika dilihat dari gangguan hama jauh berkurang karena hama kera tahun ini tidak begitu beringas.

Terpisah FatImah, petani jengkol menuturkan, untuk harga juga sedikit mengalami perbedaan dengan tahun sebelumnya. Jika semakin penghujung buah, biasanya harga semakin tinggi tidak seperti saat awal panen.

"Kemarin pertama panen bisa harga Rp9.000 per kg, untuk harga beli pengepul yang datang ke pembeli langsung. Jika diantar mungkin bisa lebih tinggi lagi," ujarnya.

"Kalau sekarang pembeli datang hanya berani bayar Rp6.000 per kg dengan kualitas buah yang sudah maksimal tua (siap gulai)," tambahnya.

Dengan kondisi buah yang tidak terlalu banyak ini, para petani lebih memilih menjual kiloan ke pedagang pasar. Selain tidak terlalu banyak harga jualnya pun cukup tinggi bisa Rp8.000 per kilo.

Meski demikian, para petani sangat bersyukur di tengah masa pandemi dan paceklik ekonomi saat ini, para petani masih bisa mengandalkan dari hasil jual jengkol. Sembari menunggu buah pinang kembali normal dari trek dan harganya naik lagi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved