Breaking News:

Waspada Banjir

Siap-siap Hadapi Banjir, BPBD Tanjabtim Juga Waspadai Potensi Abrasi

Memasuki peralihan musim kemarau ke musim penghujan, BPBD Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mulai petakan beberapa wilayah rawan banjir

Tribunjambi/Abdullah Usman
Banjir di Desa Simpang Kecamatan Berbak pada pertengahan 2019 lalu. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Memasuki peralihan musim kemarau ke musim penghujan, BPBD Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mulai petakan beberapa wilayah rawan banjir dan abrasi

Kepala BPBD Tanjabtim Jakfar, menuturkan, untuk musim penghujan tahun jika diprediksi dengan kondisi cuaca saat ini puncaknya terjadi pada akhir tahun atau awal tahun 2021 mendatang.

"Meski demikian kita saat ini juga sudah mulai siap-siap untuk antisipasi banjir di beberapa kecamatan yang rawan," ujarnya.

"Diantaranya Kecamatan Mendahara Ulu, Kecamatan Berbak dan bantaran sungai di Kecamatan Dendang," tambahnya.

Lanjutnya, perkiraan tersebut berdasarkan pengalaman yang terjadi pada tahun sebelumnya. Banjir mulai meningkat pada awal tahun, mudah-mudahan di akhir tahun ini tidak terjadi banjir.

Untuk antisipasi yang dapat dilakukan saat ini melalui patroli, dan meng-update curah hujan bersama BMKG.

Selain banjir, di musim penghujan bencana abrasi juga menjadi antisipasi pemerintah Tanjabtim, BPBD catat beberapa wilayah masuk kategori rawan abrasi.

Pasalnya, beberapa wilayah di Kabupaten Tanjabtim memiliki sebaran penduduk yang tinggal di pinggiran air Sungai Batanghari yang tidak menutup kemungkinan rawan terjadi abrasi.

"Kalau untuk bencana longsor di Tanjabtim tidak ada, kalau abrasi memang ada beberapa daerah yang masuk rawan," jelasnya.

Diantaranya Desa Sungai Rambut, Kelurahan Simpang, untuk wilayah pantai diantaranya Desa Pangkal Duri, dan Simbur Naik.

"Daerah-daerah tadi berpotensi terjadinya abrasi. Tapi kalau longsor tidak ada," tambahnya

Selain itu bagi masyarakat yang sadar wilayahnya rawan abrasi untuk tetap waspada, dan segera melakukan evakuasi mandiri saat musim banjir.

Terpisah Camat Berbak M Yani, saat dikonfirmasi mengatakan, dirinya tidak memungkiri jika abrasi memang mulai mengancam warga. Tentunya selain dampak banjir lokasi tersebut merupakan lokasi pertemuan beberapa aliran sungai yang cukup berpotensi menimbulkan abrasi.

"Sebenarnya abrasi tersebut sudah terjadi sejak tahun lalu, kita bersama pemerintah setempat dan Polsek sudah turun mengecek. Ada sekitar 20 meter tanah yang amblas (abrasi) dengan kedalaman 6-7 meter dan kita juga sudah laporkan ke PU kabupaten ," ujarnya.

"Selain itu saya juga sudah sampaikan hal ini ke Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati, kita berharap dapat segera mendapat penanganan," tambahnya.

Penulis: Abdullah Usman
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved