Breaking News:

Hanya Dapat 16 Sak Tiap Panen, Hama Tikus Hantui Petani di Tanjabtim

Serangan hama masih menjadi permasalahan bagi para petani padi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), tidak sedikit dari mereka

Tribunjambi/Abdullah Usman
Para petani di Kecamatan Rantau Rasau tengah bersiap untuk bercocok tanam padi, Senin (14/9). Mereka mengeluhkan serangan hama tikus membuat hasil panennya anjlok. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Serangan hama masih menjadi permasalahan bagi para petani padi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), tidak sedikit dari mereka yang harus kehilangan padi saat musim panen

Kabupaten Tanjabtim memiliki beberapa daerah yang menjadi sentral pangan, di antaranya Kecamatan Berbak, Rantau Rasau, Sadu dan wilayah sekitarnya.

Namun sayang, hampir setiap tahunnya para petani selalu dihadapkan dengan persoalan serangan hama, tidak sedikit dari serangan hama tersebut menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Dikatakan Sukris, petani padi di Kecamatan Rantau Rasau banyak hal yang menjadi kendala para petani dalam bercocok tanam. Mulai faktor alam hingga serangan hama yang semakin mengerikan.

"Seperti pada panen kemarin, para petani hanya dapat padi sekitar 16 sak saja, dari panen biasanya bisa 75-90 sak," ujarnya.

"Kita kalau ngeluh dikira bohong padahal faktanya memang begitu, tapi kita sebagai petani ya tidak boleh ngeluh," tambahnya.

Penyebab utama anjloknya hasil panen petani tersebut tidak lain karena faktor serangan hama, yang semakin menggila tidak hanya memakan namun juga merusak.

"Hama yang paling berbahaya itu tikus, jika sudah menyerang sangat sulit untuk dapat dibasmi," jelasnya.

Lanjutnya, ada beberapa cara yang mungkin dinilai efektif untuk dapat mengantisipasi serangan hama tikus. Diantaranya dari awal mula penyemaian lahan pertanian. Pada bagian itu sangat penting.

"Sebelum padi ditanamm petani harus lebih dahulu memberikan pakan racun pada tikus, sehingga setelah padi ditanam tikus sudah pada mati, dan dapat meminimalisir adanya serangan tikus," ujarnya.

"Tapi kalau hanya satu petani saja tentu tidak akan efektif, harus kompak melakukan hal itu sebelum tanam. Baru bisa," tambahnya.

Hama tikus rawa dianggap hama yang paling bandel untuk dibasmi. Meskipun lahan sawah sudah tergenang banjir tikus tetap bisa hidup dan berkembang biak bahkan semakin ganas.

Sejauh ini para petani hanya bisa mengadukan hal tersebut ke pihak penyuluh atau pihak terkait. Hanya saja dengan kondisi yang sudah seperti ini memang cukup menyulitkan.

"Kalau respon pemerintah dan penyuluh sendiri sudah baik. Ketika ada laporan mereka langsung kroscek," jelasnya.

Sebelumnya para petani di simpang datuk Kecamatan Sadu juga mengeluhkan serangan hama, hanya saja serangan hama di wilayah tersebut berbeda jenis wereng juga sudah menyerang pertanian warga.

Penulis: Abdullah Usman
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved