Breaking News:

Potret Desa Olak Kemang, Penghasil Gaharu di Tengah Himpitan Kebun Sawit

Desa Olak Kemang, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo cukup sulit diakses, kondisi jalan tanah dengan medan berbukit tanpa aspal.

Tribunjambi/Dedy Nurdin
Pak Sufardi bersama istrinya tengah metik daun gaharu untuk diolah menjadi teh gaharu. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Desa Olak Kemang, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo cukup sulit diakses, kondisi jalan tanah dengan medan berbukit tanpa aspal membuata warga sering kali urung bepergian keluar kota terutama ketika musim penghujan.

Ditambah lagi akses internet yang masih sulit membuat warga tak bisa mendapat informasi yang memadai meski memiliki telepon pintar. Namun situasi ini tak membuat warga Desa Olak Kemang terpuruk.

Hal ini justru menjadi pemantik kekompakan warga untuk membangun ketahanan pangan, meski berada di tengah himpitan perusahaan perkebunan sawit dan pemegang izin HTI.

Jumat (28/8/2020) sekitar pukul 10.30 wib, Ahmad Supardi mengajak kami ke kebun sawit di belakang rumahnya. Di lahan setengah hektar itu ia menanam pohon gaharu.

Setidaknya ada sekitar sekitar 2600 polybag berisi bibit gaharu yang ia semai sendiri, bibit itu tumbuh dari biji pohon gaharu yang usianya sekitar delapan tahun.

Satu Lagi Pasien Covid-19 di Jambi Meninggal Dunia, Sempat Keluhkan Sesak Napas

Pasien Positif Covid-19 di Jambi Bertambah 5 Orang, Total Kasus Hari Ini Tembus 314 Orang

Pria 63 tahun ini memiliki 600 batang gaharu yang ditanam sejak tahun 2012 silam. Kini pohonnya sudah mencapai ketinggian sekitar 3-4 meter. Kulitnya ia jual, ditingkat pengepul kulit pohon gaharu dihargai 25 ribu perkilogram hingga 60 ribu, tergantung kualitas.

“Untuk pucuk gaharu masih kami kembangkan menjadi teh. Mudah-mudahan nanti bisa menjadi komoditas unggul dari desa Olak Kemang,” katanya.

Hasil dari tumpang sari ini lah yang menjadi penopang kebutuhan sehari-hari Supardi dan warga lainnya. Menurutnya, jika mengandalkan penghasilan dari kebun sawit tak lagi mencukupi. Terutaman warga yang bermitra sawit dengan perusahaan.

“Kalau yang mitra dengan perusahaan sekarang menjerit, perbulan cuma dapat 200 ribu cukup untuk apa dengan kondisi sekarang. Bagi yang tumpang sari dengan pohon gaharu masih ada pengharapan,” kata pria yang akrab disapa Pak De Supardi.

Sebagai tanaman hutan, pohon gaharu tergolong mudah untuk dibudidayakan. Tanpa pupuk dan perawatan khusus, pohon gaharu bisa tumbuh subur meski ditumpang sarikan dengan sawit.

Halaman
1234
Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved