Breaking News:

Kemunculan Investor dan Ancaman Konflik Bagi Petani Gaharu di Desa Olak Kemang

Upaya warga Desa Olak Kemang untuk membangun desa mandiri pangan lewat tanaman Gaharu kini mulai terusik dengan munculnya PT Limbah Kayu Utama (LKU).

Tribunjambi/Dedy Nurdin
Samini, sekretaris KWT Srikandi Jaya desa Olak Kemang, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo sedang menyirami bibit sayuran di rumah bayang. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Upaya warga Desa Olak Kemang untuk membangun desa mandiri pangan lewat tanaman Gaharu kini mulai terusik dengan munculnya PT Limbah Kayu Utama (LKU).

Sabar, Kadus Pematang Raja, Desa Olak Kemang mengatakan di tahun 2018 lalu, pihak perusahaan pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) itu tiba-tiba datang dan mengklaim sebagai pemegang izin di lahan yang sudah ditempati warga.

Pihak perusahaan yang mengklaim memegang izin sejak tahun 1998 ini menawarkan warga dengan pola kemitraan bagi hasil 30-70. Tawaran ini dianggap merugikan warga karena pihak perusahaan tidak turut andil dalam proses pembukaan lahan sampai tanaman sawit dan karet milik warga sudah membuahkan hasil.

Sebelumnya di tahun 2014 pihak perusahan juga datang membuat basecamp di lahan warga. Namun ditolak hingga pihak perusahaan meninggalkan basecamp.

Potret Desa Olak Kemang, Penghasil Gaharu di Tengah Himpitan Kebun Sawit

Satu Lagi Pasien Covid-19 di Jambi Meninggal Dunia, Sempat Keluhkan Sesak Napas

“Jelas warga menolak karena selama ini tidak ada andil pihak perusahaan sampai dengan tanaman sawit warga setinggi tiga meter kemdian mereka datang mau mengambil keuntungan,” kata Sabar.

Ia mengatakan, pihak perusahaan terus melakukan pendekatan pada warga dengan pola kemitraan. Mulai dengan janji hingga dengan cara menakut-nakuti warga lewat tokoh masyarakat.

“Dengan sembunyi-sembunyi dari rumah ke rumah dan dengan premanisme. Hingga pengancaman kalu tidak bakal digusur,” kata Sabar.

Sementara lahan yang ditanami warga tersebut merupakan program pemekaran desa tahun 2001 hingga tahun 2003. Pemekaran desa itu atas permintaan dan persetujuan desa tetangga.

“Termasuk Desa Teluk Rendah yang ditandatangani masyarakat adat ninik-mamak di desa tetangga waktu itu di Desa Tambun Arang,” kata Sabar.

Untuk warga yang masuk dalam program pemekaran desa itu mendapat dua hektar untuk ditanami dan seperempat hektar untuk rumah dan pekarangan. Lahan yang digarap warga untuk pemekaran juga bukan hutan seperti yang diklaim oleh PT LKU, melainkan semak belukar.

Halaman
12
Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved