Breaking News:

Inspirasi Bisnis

Wastafel Pedal Inovasi Danang Dipesan Hingga Provinsi Tetangga, Cuci Tangan Tak Lagi Sentuh Keran

Terkadang kita risau saat mencuci tangan di tempat umum saat pandemi belum mereda. Setelah membilas sabun menggunakan air lalu kita

TRIBUN JAMBI/ISTIMEWA
Danang, pemilik bengkel las di Alam Barajo sedang berdiri di samping alat ciptaannya, Sabtu (22/8) Ia mencoba menjawab keresahan saat mencuci tangan dengan berbagai inovasi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Terkadang kita risau saat mencuci tangan di tempat umum saat pandemi belum mereda. Setelah membilas sabun menggunakan air lalu kita memegang kembali keran untuk mematikan aliran air.

Ini tentu membuat kita berfikir tangan yang sudah bersih, memegang kembali keran air yang tidak diketahui kebersihannya.

Keresahan ini pula dirasakan Danang (53), pemilik bengkel las yang mencoba berinovasi untuk menjawab keresahan mencuci tangan tanpa memegang keran air.

Ia menciptakan tempat cuci tangan yang cara penggunaannya dengan diinjak.

Alat ini didesain dengan dua pedal untuk mengeluarkan air dan sabun. Ia menyebut karyanya ini dengan nama wastafel pedal.

Proses pembuatan alat ini membutuhkan proses yang panjang. Berbagai macam percobaan dan masalah ditemui, hingga akhirnya ia membuat lima buah versi wastafel pedal.

“Saya berfikir bagaimana wastafel ini terlihat estetis. Saya melihat wastafel seperti ini (wastafel pedal-R red) di tempat lain, jeleknya kelihatan semua kerangkanya. Jadi, orang tidak tertarik untuk mencuci tangan. Coba seperti ini, orang jadi penasaran untuk mencoba,” tutur Danang saat Tribun menyambangi bengkelnya, Sabtu (22/08).

Awalnya, Danang membuat wastafel pedal fleksibel yang bisa dipindah-pindah. Setelah orang-orang mulai tertarik, ada permintaan dari suatu sekolah agar kapasitas airnya diperbesar.

Sehingga Danang mengubah penampungan air awal menggunakan galon air minum lalu diperbesar dengan drum 60 liter.

“Namanya untuk sekolah ya, pasti akan sering dipakai jadi saya perbesar lagi pakai drum,” tambah Danang.

Pria yang akrab dipanggil Pakde ini juga mengatakan, versi wastafel pedal yang selanjutnya itu idenya dari evaluasi atas pembuatan sebelumnya. Ia mencoba menjawab tentang bagaimana cara air itu mengalir lebih deras lagi. Lalu ia membuat versi ketiga, keempat, dan kelima, airnya langsung dari pipa saluran air.

Bengkel las yang berlokasi di Jalan Abadi 4, RT. 09, Kelurahan Kenali Besar, Kecamatan Alam Barajo ini, sudah mengantar pesanan sampai ke Bulian. Beberapa kantor instansi pemerintah, sekolah, kafe, dan tempat ibadah, sudah pernah memesan wastafel pedal dari bengkel ini.

“Baru kemarin sore saya pasang di kafe daerah Tugu Juang, itu mereka mendadak mesannya untuk opening,” jelas Danang.

“Ini ada lagi, mau dikirim ke Lampung. Katanya sih untuk rumah makan. Mereka pesan dua unit yang kapasitas 60 liter,” tutup Danang kepada Tribun. Harga dari wastafel pedal ini bekisar Rp.500.000 – Rp.1.500.000.

Penulis: tribunjambi
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved