Breaking News:

Petani di Tanjab Timur Kembangkan Usaha Budidaya Madu, Sebulan Bisa Hasilkan 8 Ton Madu

Di Kabupaten Tanjabtim saat ini dengan mudah ditemukan petani ataupun pembudidaya madu yang dapat dijumpai di pinggiran jalan.

Tribunjambi/Abdullah Usman
Petani madu yang beralamat di jalan lintas Jambi-Muara Sabak, tepatnya di Desa Rantau Karya, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Selain berolahraga dan menjalankan pola hidup sehat, konsumsi madu juga menjadi alternatif yang kini banyak digandrungi masyarakat.

Alhasil, dengan keadaan tersebut para pembudidaya madu yang saat ini mulai marak dijumpai di Kabupaten Tanjabtim terus berinovasi. Mengingat permintaan dan kebutuhan semakin tinggi.

Madu yang memiliki kandungan glukosa alami dirasa mampu meningkatkan stamina tubuh agar tetap fit, serta tingginya zat antioksidan dalam madu juga dapat membantu membersihkan racun dalam tubuh.

Di Kabupaten Tanjabtim saat ini dengan mudah ditemukan petani ataupun pembudidaya madu  yang dapat dijumpai di pinggiran jalan, salah satunya yakni petani madu yang beralamat di jalan lintas Jambi-Muara Sabak, tepatnya di Desa Rantau Karya, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).

Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur di Muarojambi Masuki Tahap Dua, Kakek 75 Tahun Jadi Tersangka

Semua Pasien Covid-19 Sembuh, Bupati Merangin Bayar Nazar Potong Kerbau

Petani madu di Desa Rantau Karya ini dikelola oleh dua kakak beradik bernama Zainal dan Roni. Mereka menuturkan, hasil yang diperolehnya dari usaha madu saat ini cukup menjanjikan.

"Kalau untuk usaha madu yang ada saat ini kami mulai sejak November 2019 dan sudah menghasilkan produksi madu hingga mencapai 8 ton per bulannya," ujarnya, Jumat (21/8).

"Jumlah tersebut didapatkan dari 3000 kotak sarang lebah yang tersebar di 5 titik lokasi dengan sistem 2 kali panen dalam 1 bulan," ujar Roni.

Akan tetapi, kesuksesan saat ini tidak serta merta terjadi. Karena usai mereka diberikan bimbingan serta bantuan oleh pihak Badan Restorasi Gambut dan TNBS Berbak untuk bertani madu pertama kalinya, namun usahanya tersebut mengalami kegagalan. 

"Lebah banyak yang mati dan jumlah produksi madu tidak sampai target. Menurut Dua saudara ini, pada saat itu kemungkinan jenis lebah tidak cocok dengan wilayah di sana," ungkapnya.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat dirinya, usaha kemudian di lanjutkan dan dirintis kembali pada 2019 dengan hanya bermodalkan awal 50 kotak sarang lebah beserta bibit lebah. Dan hingga saat ini sudah membuahkan hasil yang memuaskan.

Halaman
12
Penulis: Abdullah Usman
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved