Breaking News:

Mojok Tribun Jambi

Mojok Tribun Jambi, Bahas Ancaman Ketahanan Pangan di Jambi dari Industri

Ancaman ketahanan pangan saat ini menjadi nyata dengan munculnya industri ekstra aktif di sekitar ateal pertanian.

TRIBUNJAMBI
Live Mojok Tribun Jambi, dengan narasumber Rudiansyah (Walhi Jambi) dan Nurbaya Zulhakim (Yayasan Setara Jambi), dipandu oleh Suang Sitanggang (Jurnalis Tribun Jambi) 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ancaman ketahanan pangan saat ini menjadi nyata dengan munculnya industri ekstra aktif di sekitar ateal pertanian. Mulai dar konflik hingga kriminalisasi dalam upaya penguasaan lahan pertanian.

Hal ini seperti disampaikan Rudiansyah, direktur WALHI Jambi dalam diskusi program Mojok Tribun Jambi dengan tema "Sudahkah Kita Siap Kelaparan" yang disiarkan secara daring, Rabu (29/7/2020).

Menurut Rudiansyah, problem pembangunan industri di Jambi belakangan ini tidak memperhatikan keberlanjutan areal pangan petani.

Terutama petani di kampung-kampung yang menjadi ironi di tahun 2020, di tengah pandemi Covid-19 tekanan industri juga cukup aktif. Terbukti dengan bermunculannya konflik petani hingga berujung pada kriminalisasi.

Rudi mencontohkan baru-baru ini WALHI Jambi melakukan pendampingan pada petani di Desa Lubuk Badrasah, Kabupaten Tebo yang berkonflik dengan perusahaan industri HTI (Hutan Tanaman Industri) group dari Sinar Mas.

Pemkot Jambi Tetap Gelar Salat Idul Adha di Tengah Pandemi Covid-19

Jelang Idul Adha, Harga Daging di Angso Duo Naik Jadi 130 Ribu

"Ada penggunakan mekanisme dengan dron untuk melemparkan racun herbisida, itu bagian zat kimia yang mematikan lahan masyarakat di sekitarnya," kata Rudiansyah.

Ada juga kriminalisasi petani yang berujung pada proses hukum saat mempertahankan wilayah kedaualatan pangannya. Padahal menempatkan petani dalam kedaulatan pangan pemerintah punya perda No 5 tahun 2012 soal ketahanan pangan. Dan kondisi ini berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.

Kalau tidak diperhatikan secara serius oleh pemerintah maka kata Rudiansyah keberadaan industri ini akan mengancam keberlangsungan ketahanan pangan di Jambi.

"Dalam perda pangan berkelanjutan, industri eksploitasi areal pangan tidak pernah diperbolehkan. Tidak ada ruang sama sekali untuk mengancam tapi ini terjadi," katanya.

Problem petani sangat luas disamping memastikan produktifitas dan harga berpihak, belum lagi keberpanjutan harus juga diperhatikan. Namun petani tidak bisa disalahkan dalam hal ini karena keterbatasan informasi.

Halaman
123
Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved