Breaking News:

Advertorial

12 Tahun Jadi Pasien Hemodialisa, Maryadi Sangat Merasakan Perkembangan Program JKN

Terapi ini umumnya dilakukan oleh pengidap masalah ginjal yang ginjalnya sudah tak berfungsi dengan optimal.

ISTIMEWA
Maryadi (48) untuk menjalani proses Hemodialisa rutinnya. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Menunggu 12 tahun bukan waktu yang tergolong sebentar bagi seorang Maryadi (48) untuk menjalani proses Hemodialisa rutinnya.

Hemodialisa atau hemodialisis merupakan terapi cuci darah di luar tubuh.

Terapi ini umumnya dilakukan oleh pengidap masalah ginjal yang ginjalnya sudah tak berfungsi dengan optimal.

Ketika ditemui tim Jamkesnews Maryadi membagi kisahnya kenapa ia pada akhirnya harus mendapatkan terapi hemodialisa di Rumah Sakit Raden Mattaher.

Maryadi sebelumnya memiliki riwayat penyakit maag yang membuatnya rutin mengonsumsi obat jenis antacyd.

Maryadi sendiri yang berprofesi sebagai apoteker mengetahui bahwa konsekuensi mengkonsumsi obat secara rutin adalah ginjalnya akan bekerja ekstra untuk menyerap obat obatan yang ia konsumsi dan harus dibarengi dengan minum air putih yang banyak, namun Maryadi melalaikan hal tersebut.

Ia terlambat menyadari kesalahannya akibat konsumsi obat yang rutin tanpa dibarengi oleh konsumsi air putih membuat Maryadi harus merasakan yang namanya proses Hemodialisa.

“Ginjal saya itu mengecil, dan fungsinya sudah tidak optimal makanya sekarang saya berakhir disini dan ini sudah tahun ke 12 saya menjalani proses cuci darah,” sebutnya

Setelah 12 tahun menjalani proses Hemodialisa yang dibiayai oleh Program JKN, tentu Maryadi memahami betul tentang mekanisme pemberian layanan kesehatan baginya.

Maryadi mengakui bahwa program Jaminan Kesehatan Nasional ini terus berupaya untuk memperbaiki diri.

"Sebelumnya yang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibiayai oleh negara ini hanya terbatas dari kalangan pegawai negeri saja, dan saya adalah salah satu yang beruntung memiliki istri seorang pegawai negeri sehingga pembiayaan pelayanan kesehatan saya sejak 12 tahun yang lalu menjadi jaminan pemerintah,” ujarnya.

“Kini kalau dilihat di ruangan hemodialisa ini, pasien pasien yang mendapatkan pelayanan rata rata terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan tidak hanya merupakan pegawai saja. Artinya konsep Jaminan Kesehatan di Indonesia terus membaik, bahkan semakin dipermudah khususnya bagi kami pasien yang rutin mendapatkan pelayanan hemodialisa,” ujarnya.

“Biasanya kami setiap 3 bulan satu kali diminta untuk memperbaharui rujukan kami di rumah sakit, jadi kembali ke puskesmas untuk minta rujukan lagi sebelum proses HD dilakukan, kemarin dikasih tahu sama perawat kalau tidak perlu memperbaharui rujukan lagi karena prosesnya sudah online menggunakan sidik jari bae. Sebelumnya sudah pakai sidik jari juga tapi tetap dibawa rujukan yang berlaku 3 bulan, sekarang kata perawat sidik jari saja cukup, kan makin enak tu,” tutur Maryadi.

“Jaminan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Program JKN-KIS ini nyata dirasakan oleh masyarakat. 12 tahun sebagai pasien tetap di ruangan hemodialisa ini baru sejak ada JKN saya bisa melihat berbagai macam lapisan masyarakat yang dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan tanpa khawatir akan pembiayaan, biasanya hanya mereka yang berprofesi sebagai pegawai negeri atau mereka yang memiliki ekonomi mencukupi yang mampu membiayai pelayanan hemodialisa bagi keluarga mereka, kini dengan adanya BPJS Kesehatan semakin banyak masyarakat yang bisa memperpanjang masa hidupnya karena telah mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan sesuai standar tanpa khawatir akan pembiayaan. Terimakasih BPJS Kesehatan,” tutup Maryadi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved