Breaking News:

Pergerakan Rupiah

Arus Modal Asing Keluar Tak Terhindarkan, Khawatir Pelaku Pasar Semakin Meningkat

Pandemi Covid-19 yang belum kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berakhir memberi tekanan pada nilai tukar rupiah di pekan ini.

Editor: Fifi Suryani
ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww.
Seorang karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, beberapa waktu lalu. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah di Rp14.532 per dollar Amerika Serikat (AS), Jumat (3/7). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang belum kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berakhir memberi tekanan pada nilai tukar rupiah di pekan ini. Arus modal asing yang keluar tidak terhindarkan saat kekhawatiran pelaku pasar semakin meningkat.

Mengutip Bloomberg, Jumat (3/7), rupiah melemah 1,01% ke Rp14.523 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan rupiah melemah 2,13%. Sementara, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah melemah 0,34% di hari ini menjadi Rp14.566 per dolar AS. Sedangkan, dalam sepekan rupiah melemah 2,29%.

Ekonom Maybank Myrdal Gunarto mengatakan, rupiah makin melemah hingga akhir pekan karena investor asing melakukan aksi jual baik di pasar saham dan obligasi. Pemicu aksi jual datang dari kekhawatiran akan risiko kebijakan monetisasi utang oleh BI.

Maklum, BI memang banyak mengeluarkan kebijakan untuk menangani dampak pandemi Covid-19. Kebijakan ini antara lain membeli Surat Utang Negara (SUN) yang disebut sebagai monetisasi utang.

Kabar terbaru, BI juga akan meneken persetujuan dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menandatangani tagihan penanganan Covid-19 Indonesia senilai US$ 40 miliar.

Sayangnya, kebijakan tersebut berisiko menimbulkan persepsi buruk investor global. Padahal, Myrdal menilai kebijakan tersebut merupakan refleksi kebijakan fleksibilitas bank sentral yang lumrah dilakukan pada kondisi saat ini.

"Monetisasi utang sebenarnya bisa untuk menjaga perkembangan perekonomian, membantu struktur utang pemerintah ke depan, dan menjaga defisit neraca berjalan agar tidak melebar," kata Myrdal, Jumat (3/7).

Analis HFX Berjangka Ady Pangestu mengatakan kekhawatiran akan jumlah pasien positif corona yang masih bertambah menjadi sentimen utama yang membuat rupiah melemah di pekan ini.

Selain itu, data pengangguran di AS yang masih tercatat lebih baik dari prediksi pelaku pasar juga menambah tekanan pada nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut mendukung terjadinya aksi profit taking.

"Rupiah di pekan ini secara teknikal memang sudah keliatan mengarah ke Rp14.500, sudah waktunya taking profit," kata Ady.

Secara teknikal, Ady menganalisis rupiah bergerak di rentang Rp14.300 per dolar AS hingga Rp14.700 per dolar AS di pekan depan. Sementara, Myrdal memproyeksikan rentang rupiah berada di Rp14.318 per dolar AS hingga Rp14.751 per dolar AS.

Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: Kurs rupiah tumbang lebih dari 2% terhadap dolar AS dalam sepekan, ini penyebabnya 

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved