Harga Batu Bara Mulai Memanas, China dan AS Manfaatkan Momentum Timbun Cadangan

Pergerakan harga batubara dalam sepekan terakhir terus menanjak. Hal ini sejalan dengan membaiknya tren harga komoditas global.

ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, baru-baru ini. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara hingga Mei 2020 mencapai 228 juta ton, atau 42 persen dari total target produksi nasional tahun 2020 yaitu 550 juta ton. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Pergerakan harga batubara dalam sepekan terakhir terus menanjak. Hal ini sejalan dengan membaiknya tren harga komoditas global.

Jika merunut pergerakan harga batubara sejak 19 hingga 26 Juni 2020, harga batu bara pada kontrak Oktober 2020 tercatat naik 0,71% dari US$ 56,45 per ton menjadi US$ 56,85 per ton hingga akhir pekan lalu.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menilai, tren harga batu bara ke depan masih akan melanjutkan peningkatan.

Bahkan dia merevisi outlook harga batubara ke depan, sejalan dengan prospek yang bakal lebih positif. "Kenaikan seiring oil trend yang naik juga," jelas Wahyu, Senin (29/6).

Dia menjelaskan, pergerakan harga batu bara secara keseluruhan masih mirip dengan komoditas lainnya yang masih sangat rentan oleh perkembangan ekonomi.

Namun, jika dibandingkan dengan komoditas lainnya, Wahyu cukup optimistis pergerakan harga batubara masih lebih baik, khususnya jika dibandingkan harga minyak yang sempat melorot cukup dalam di tahun ini.

Faktor penyebaran virus Covid-19 turut mempengaruhi supply dan demand batu bara sepanjang tahun 2020 ini. Banyak pabrik dan aktivitas ekonomi di beberapa negara menurun dan berhenti, sehingga permintaan batu bara merosot.

Ditambah lagi, saat ini China dan Amerika Serikat memanfaatkan momentum guna melakukan hoarding atau menimbun cadangan, terutama komoditas strategis seperti minyak dan batu bara.

Wahyu memperkirakan harga batubara jangka panjang kisaran US$ 40-US$ 120 per ton. Sementara harga konsolidasi tahunan batu bara diprediksi di rentang US$ 50-US$ 60 per ton dan jangka menengah US$ 50-US$ 70 per ton.

Sedangkan dalam rentang mingguan, harga batu bara diperkirakan ada direntang US$ 50-US$ 60 per ton. "Saat harga berada di atas US$ 60 per ton bisa sell on strength, dan saat mendekati US$ 50 bisa buy on weakness," tandas Wahyu.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan menilai, kenaikan harga batu bara dalam sepekan terakhir cenderung flat. "Cenderung flat, harga batu bara tidak bergerak kemana-mana," ujar Andy.

Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: Harga Batubara Mulai Memanas, Begini Proyeksi ke Depan

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved