Breaking News:

Berita Internasional

Negara-negara Asia Tenggara Berang! Pemimpin Negara ASEAN Melawan Kesewenang-wenangan China di LCS

Negara-negara Asia Tenggara Berang! Pemimpin Negara ASEAN Melawan Kesewenang-wenangan China di LCS

AFP
Kapal-kapal Amerika Serikat di perairan Laut China Selatan, berdekatan dengan teluk Filipina. 

Mereka berbicara dengan syarat anonim karena kurangnya otoritas untuk berbicara di depan umum.

Sebelumnya China dengan kekuatan militernya mengklaim lebih dari 80 persen Laut China Selatan yang dipersengketakan dengan nine dash line (garis sembilan garis putus-putus). 

Klaim itu membentang sejauh 2.000 km (1.242 mil) dari daratan China, meliputi perairan yang dekat dengan Indonesia dan Malaysia.

Klaim China tumpang tindih dengan klaim teritorial negara-negara anggota ASEAN, yakni Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunei. 

Pesona Ariel NOAH Sampai Ditolakya, Inilah Sosok Cantik Dita Soedarjo, Anak Konglomerat Indonesia

Kisah Sara Fajira Sebelum Beken Bersama Weird Genius Bawakan Lagu Lathi, Dulu Dibully Ikut Ajang Ini

Anggota DPRD Tulungagung Banting Botol Bir, Tagih Utang 6 Miliar Untuk Pilkadake Bupati

Sebagai pemimpin ASEAN tahun ini, Vietnam mengawasi penyusunan "pernyataan ketua," yang bukan dokumen yang dinegosiasikan tetapi diedarkan di antara negara-negara anggota lainnya untuk konsultasi.

Vietnam telah menjadi salah satu kritik paling vokal terhadap tindakan tegas China di perairan yang disengketakan.

Sebelum Indonesia juga dengan tegas menolak klaim China, di mana Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengirim surat pada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Selasa (26/5/2020).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan "garis sembilan garis putus-putus (dash nine)'' yang dikeluarkan oleh China "tidak memiliki dasar hukum internasional" dan  bertentangan dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut ( UNCLOS 1982).

Menlu Retno menambahkan peta garis sembilan yang tumpang tindih dengan zona ekonomi beberapa negara Asia Tenggara, adalah fiktif dan tidak memberikan kedaulatan China atas wilayah tersebut.

Awal Juni 2020, Filipina mendadak berubah haluan politik menyikapi konflik Laut China Selatan yang dipicu arogansi China.

Jika selama ini Duterte dianggap memihak China, meski teritorialnya diinvasi China, mendadak Filipina berubah haluan.

Halaman
1234
Editor: Andreas Eko Prasetyo
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved