IHSG

Inilah Pilihan Saham-saham Tahan Banting

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tercatat merosot 22,27% sejak awal tahun hingga kemarin (25/6). Namun, jelang akhir semester satu,

ANTARA FOTO/Aprillio Akba/hp.
Pelajar beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3) 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tercatat merosot 22,27% sejak awal tahun hingga kemarin (25/6). Namun, jelang akhir semester satu, indeks saham kembali menguat. Dalam sebulan terakhir, IHSG tercatat menguat 7,72%.

Analis memprediksi di semester dua nanti pasar saham masih dibayangi sentimen pandemi Covid-19. Apalagi, ada kekhawatiran gelombang kedua pandemi terjadi.

Meski begitu, seiring berjalannya kenormalan baru di dalam negeri, harga sejumlah saham berpotensi kembali menguat di paruh kedua tahun ini. Salah satunya saham-saham dari sektor barang konsumen.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menuturkan, kinerja emiten barang konsumen akan cukup stabil, didukung katalis positif pelonggaran pembatasan sosial.

Wawan juga menyarankan investor mencermati saham perbankan dan telekomunikasi. Investor bisa masuk ke saham yang memiliki modal kuat, seperti saham BBCA (Bank BCA).

Analis Pilarmas Investindo Okie Ardiastama mengamini pendapat Wawan. Dari sektor perbankan, Okie menilai saham BBCA dan BBRI berpotensi melesat di paruh kedua tahun ini. Dari sektor telekomunikasi Okie merekomendasikan saham EXCL dan saham TLKM.

Sementara dari sektor barang konsumen, ia menyarankan investor mencermati saham ICBP, INDF, MYOR dan UNVR. "Sektor ini yang berpotensi mengangkat indeks," cetus Okie, Kamis (25/6).

Di sisi lain, Wawan menyarankan investor berhati-hati bila ingin berinvestasi di saham-saham sektor properti, real estate dan konstruksi bangunan. Sepanjang 2020 berjalan, indeks sektor ini mencatat kinerja terburuk, yakni merosot 35,54%.

Wawan menilai, pelaku pasar merespons potensi penurunan pendapatan emiten properti yang masih berpotensi berlanjut hingga tahun depan. "Bila ingin melihat harga sahamnya bisa kembali ke level sebelum pandemi butuh minimal dua tahun," ujar dia.

Emiten properti pengembang perumahan diprediksi masih akan kesulitan memasarkan produknya. Sementara emiten properti pengelola perkantoran dan pusat perbelanjaan kemungkinan akan mengalami penurunan pendapatan, lantaran di kenormalan baru okupansi berpotensi berkurang separuh.

Wawan menyarankan investor juga mencermati perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Selain itu, kebijakan moneter bank sentral juga akan mempengaruhi arah investasi pelaku pasar.

Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: IHSG Masih Diselimuti Sentimen Negatif, Ini Pilihan Saham yang Tahan Banting

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved