Breaking News:

Jambi Siaga Karhutla

Menagih Janji Restorasi, Monopoli Air dan Kerusakan Gambut hingga Acaman Kebakaran Hutan Jambi

Siang di penghujung April 2020 sinar matahari terik menyengat kulit. Saat itu, Tribun Jambi berada di tanggul dengan lebar sekitar delapan meter.

Penulis: Dedy Nurdin | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Dedy Nurdin
Air berwarna coklat yang keluar dari mesin pompa milik PT EWF yang berlokasi di Desa Rukam. Air dari dalam areal perkebunan dibuang ke sugai bekas galian tangul Perusahaan sawit itu pada April 2020 lalu. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Siang di penghujung April 2020 sinar matahari terik menyengat kulit. Saat itu, Tribun Jambi berada di tanggul dengan lebar sekitar delapan meter. Tanggul dengan ketinggian delapan meter itu mengelilingi areal perkebunan sawit milik PT EWF (Erasakti Wira Forestama) yang bersebelahan dengan tanggul milik PT RMJS. 

Untuk membangun tanggul tersebut sungai primer yang menjadi anak Sungai Batanghari di Desa Rukam, Kecamatan Tanggo Rajo, Kabupaten Muarojambi pun harus dikorbankan. 

Akses sungai yang dulunya dipakai warga untuk mencari ikan menuju danau dan lopak saat musim banjir kini telah mati. Namun jejak sungai ini masih terlibat dari atas tangul, sungai pelimer sudah kering sementara disisi kiri kanannya sudah ditumbuhi sawit. 

Ketinggian sawit seragam diperkirakan dua meter dengan usia 4 hingga 5 tahun terhampar sejauh mata memandang. 

"Dulu tahun 2015 terbakar hebat karena memang tanahnya gambut. Setelah itu di-land clearing setahun kemudian baru ditanami sekarang sawitnya mulai berbuah pasir," kata seorang warga. 

Jambi Masih Terancam Karhutla, Pemerintah Corong Utama Pencegahan

129 Hektare Lahan di Jambi Terbakar, Dua Kabupaten Tingkatkan Status Siaga Darurat Karhutla

Akses menuju areal perusahaan EWF melewati sungai primer yang sudah ditutup dengan tanggul. Setelah menggunakan perahu ketek sekitar 15 menit dari Desa Rukam tampak lah tanggul yang menutupi sungai tersebut. 

Hanya jejak sungai pelimer yang masih dapat terlihat jelas dari atas tanggul. Sementara danau dan lopaknya sudah tertutupi dengan sawit. 

Tanggul itu mengelilingi areal perusahaan EWF. Berdasarkan izin yang dikeluarkan Bupati Muarojambi tahun 2002 luasnya mencapai 4.000 hektar meliputi Desa Rukam, Teluk Jambu, Dusun Mudo dan Sekumbang. 

Sementara dari tanggul tempat pemberhentikan, terlihat sebuah pondok beratap seng. Di sanalah warga Desa Rukam yang bekerja sebagai buruh perawat dan pemupuk tanaman sawit itu menunggu jemputan perahu ketek. Perahu bermesin dengan kapasitas maksimal 15 hingga 20 orang saja. 

Tak jauh dari tanggul yang menitupi sungai pelimer terdapat sebuah menara pemantau api milik perusahaan. Dibelakangnya terdapat hamparan hutan yang ditumbuhi pepohonan yang menjadi areal pencadangan konservasi milik PT EWF

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved