Jelang Penerapan Aspal Karet, Kualitas Produksi Karet Petani Harus Diperhatikan

Penerapan aspal campur karet dinilai berpotensi meningkatkan harga karet petani, palagi jika hal ini dilakukan secara massif.

TRIBUNJAMBI/WAHYU HERLIYANTO
Ilustrasi aspal 

TRIBUNJAMBI.COM - Penerapan aspal campur karet dinilai berpotensi meningkatkan harga karet petani, palagi jika hal ini dilakukan secara massif.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Agus Rizal menyampaikan Kementerian PUPR tahun ini telah menyiapkan anggaran Rp9,9 miliar untuk membeli karet petani di Jambi, guna dijadikan bahan campuran aspal.

"Mereka sudah turun ke lapangan, akan langsung membeli karet petani dengan harga K3 nya, kisaranya sekitar Rp8 ribu per kilogram," ungkap Agus Rizal, beberapa hari lalu.

Ketersediaan bahan baku karet di petani kata dia bisa memenuhi permintaan dari PUPR, sebab rata-rata setiap bulan produksi karet petani di Jambi mencapai 29 ribu ton.

Untuk penerapan aspal karet sendiri, menurut Agus kembali kebijakan dari PUPR maupun kepala daerah masing-masing. "Kalau semua pembangunan jalan menggunakan aspal berbahan karet tentu akan berdampak terhadap harga karet," sebutnya.

Namun lagi-lagi kata dia, ini harus didorong dengan kebijakan pemerintah. Sebab pelaku usaha tidak akan membangun pabrik aspal karet jika tidak didukung dengan kebijakan penerapan aspal karet.

Sementara Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jambi, Juwanda menyebut kini pemerintah daerah harus bahu membahu untuk mendorong pemerintah pusat agar segera membuat aturan tentang penetapan aspal berbahan karet.

"Harus ada aturan, setidaknya peraturan menteri agar aspal campur karet diterapkan, kalau tidak ada aturan, titik terang program ini jadi tidak jelas, kan sekarang baru ujicoba," jelas Juwanda.

Setelah ada aturan yang jelas, kini kata dia tinggal kesiapan pemerintah daerah untuk mengkaji, apakah produksi karet petani Jambi mampu memenuhi kebutuhan produksi aspal.

"Ini yang perlu dipikirkan, mulai dari kuantitas dan kualitas karet petani. Kalau nanti sudah wajib pakai aspal karet, ternyata kualitas karet petani kita tidak memenuhi standar, yang diambil karet dari daerah lain. Maka peningkatan kualitas produksi karet petani harus kita prioritaskan," pungkasnya. (kip)

Editor: awang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved