Kasus Gizi Buruk

Lima Anak Belum Dapat Disembuhkan, Sembilan Balita Terdeteksi Gizi Buruk

Sebanyak sembilan anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Muarojambi mengalami gizi buruk. Dari sembilan balita itu,

Tribun Jambi/Samsul Bahri
Ilustrasi penderita gizi buruk 

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Sebanyak sembilan anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Muarojambi mengalami gizi buruk. Dari sembilan balita itu, mempunyai kriterianya sendiri.

Pertama mengalami gizi buruk secara murni karena kurang asupan gizi dan kriteria kedua mengalami gizi buruk karena memiliki penyakit penyertaan lainnya.

Plt Kadinkes Muarojambi, Yes Isman mengatakan dari 9 balita yang mengalami gizi buruk itu 3 orang sudah membaik.

"Kebetulan yang tiga orang tersebut mengalami gizi buruk secara murni masih bisa diberikan asupan untuk penyembuhannya, sedangkan 1 orang lagi belum membaik dan masih kurus karena belum ada pemberian gizi tinggi," jelasnya, Minggu (21/6).

Ia juga menyampaikan dari 9 balita yang mengalami gizi buruk tersebut terdapat 5 balita yang mengalami gizi buruk yang ada penyakit penyertaannya belum membaik.

"Karena mereka masih ada penyakit penyertaan dan sulit disebumhkan, seperti penyakit jantung bocor, kelainan jantung, pneumonia, dan ada yang infeksi paru," ungkapnya.

Dalam menangani kasus gizi buruk terhadap anak balita di Kabupaten Muarojambi, pihak Dinkes tetap memberikan asupan gizi yang cukup dan mengawasi balita tersebut.

"Ada tim pengawas kita di lapangan untuk pantau semua perubahannya, memang perkembangannya sedikit lambat, karena penyakit penyertaannya belum disembuhkan," tuturnya.

Imunisasi Rutin di Posyandu

UNTUK mencegah terjadinya gizi buruk dan stanting terhadap balita, Dinkes Muarojambi berharap para orang tua lakukan imunisasi secara rutin di posyandu.

Dalam imunisasi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muarojambi Yes Isman mengungkapkan agar penyakit dan tingkat asupan gizi anak balita bisa terpantau.

"Jadi kita bisa tahu mana yang kekurangan asupan gizi, dan yang sudah mendekati stanting, petugas kita di posyandu langsung menangani kesehatan balita, biar diarahkan tingkatkan asupan gizi agar terhindar dari stanting," ungkapnya, Minggu (21/6).

Selain itu ia juga mengatakan yang mengalami gizi buruk pada umumnya balita dan bayi, dalam program posyandu inilah gunanya memantau gizi buruk dan stanting terhadap balita.

"Yang kita monitor ini sebenarnya gizi buruk terhadap anak balita dan bayi, kenapa anak balita, karena untuk pertumbuhan otaknya sangat bagus itu terdapat pada anak balita, sebenarnya asupan gizi bisa diberikan pada saat ibu hamil berikan susu ASI yang eksklusif," kata Yes Isman.

Untuk kasus kekurangan gizi dan stanting di Kabupaten Muarojambi merata di semua wilayah, angka stanting dan gizi buruk di Muarojambi 9 orang yang disampaikannya termasuk dengan data tahun lalu.

Penulis: Hasbi Sabirin
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved