Harga Getah Anjlok ke Angka Rp4 Ribu, Pemerintah Harus Berani Putus Rantai Niaga

Harga karet di tingkat petani di Provinsi Jambi saat ini masih sangat rendah, terlebih selama pandemi corona

Tribun Jambi/Mareza Sutan AJ
Sejumlah petani karet meletakkan karetnya di pasar lelang di Dusun Senamat, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo 

 

  1. TRIBUNJAMBI.COM  -  Harga karet di tingkat petani di Provinsi Jambi saat ini masih sangat rendah, terlebih selama pandemi corona, di Kabupaten Sarolangun untuk getah karet Mingguan hanya dihargai Rp4 ribu per kilogram oleh tengkulak, dan untuk getah karet harian bisa dihargai lebih murah.

Seorang pemilik kebun karet di Sarolangun, Budi Darmawan menyebut sejak akhir April lalu harga getah karet anjlok di harga Rp4 ribu, sejak itu hingga sekarang anak buahnya yang menyadap karet tidak bekerja efektif seperti biasa.

"Mereka yang biasa nyadap karet saya izin cari pekerjaan lain jelang harga normal, seperti kerja serabutan, kemudian mendulang emas, jadi sekarang sudah dua bulan kebun karet terbengkalai," kata Budi, Selasa (9/6).

Terkait masalah ini, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi Ani Ranifah mengatakan pihaknya sudah berbincang dengan pihak perusahaan, dan memang harga sedang anjlok.

"Malam tadi saya baru ngobrol dengan orang pabrik," kata Ani, Selasa (9/6/2020).

Rendahnya harga karet ini kata dia disebabkan beberapa negara tujuan ekspor di Eropa dan Amerika masih tutup karena pandemi corona.

"Kegiatan ekspor belum semuanya normal akibat dampak wabah Covid-19. Saat ini baru Jepang yang sedikit normal," jelas dia.

"Akibatnya stok bahan baku banyak karena permintaan kurang , bahkan kata pihak perusahaan nyaris tidak ada (negara yang membeli)," sambung Ani.

Untuk membantu perekonomian para petani karet di Jambi, Disprindag telah melakukan beberapa langkah seperti membuat surat imbauan kepada perusahaan untuk tetap membeli karet dari petani. 

"Pabrik harus melakukan aktivitas, serta berkoordinasi dengan Kemendag untuk mencari negara tujuan ekspor yang sudah tidak lockdown. Kita harus mencari pangsa pasar baru," pungkasnya. 

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Usman Ermulan menyebut saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor. Pemerintah harus segera menerapkan pembuatan aspal berbahan getah karet atau menciptakan produk hilir.

“Yang harus dilakukan pemerintah sekarang mendirikan hilirisasi karet sebagai langkah strategis, membangun pabrik vulkanisi untuk memecahkan masalah kemerosotan harga karet di petani,” ungkapnya.

Kemudian Usman Ermulan menjelaskan pemerintah juga harus memutus panjangnya rantai tata niaga getah karet, saat ini tata niaga karet dimulai dari petani yang menjual ke tengkulak kecil di tingkat dusun, kemudian ke tengkulak di tingkat kabupaten, selanjutnya dijual ke pabrik, lalu pabrik kembali menjual ke importir di negara tetangga, yang kemudian dilanjutkan ke negara industri seperti Jepang, dan negara-negara lain di Eropa.

Panjangnya tataniaga karet di Jambi ini kata Usman membuat perbedaan harga karet di tingkat petani mencapai 160 persen dari harga yang ditetapkan oleh pemerintah, berdasarkan KK 100 persen.

“Untuk permasalahan ini pemerintah harus berani memutus mata rantai tersebut. Banyaknya mata rantai yang bermain juga menjadi penyebab tertekannya harga karet,” ungkap Usman Ermulan. (kip)

Editor: awang
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved