34 Bocah Terkena Gizi Buruk, Satu Orang di Tanjabbar Meninggal

Kasus gizi buruk masih banyak ditemukan di Provinsi Jambi, bahkan bebapa hari lalu seorang bocah

Istimewa
Miris, seorang ibu kandung tega menghukum anak perempuannya yang baru berusia 8 tahun dengan berlutut di atas bara api, penyebabnya sepele! 

TRIBUNJAMBI.COM - Kasus gizi buruk masih banyak ditemukan di Provinsi Jambi, bahkan bebapa hari lalu seorang bocah di Kabupaten Tanjung Jabung Barat meninggal dunia karena gizi buruk.

Dari data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi tercatat hingga April 2020 lalu ditemukan setidaknya 34 pasien anak gizi buruk di Provinsi Jambi, satu orang dilaporkan meninggal. Pasien ini teridiri dari 14 anak laki-laki dan 20 anak perempuan.

Melihat data tahun sebelum nya, angka gizi buruk per April tahun 2020 ini telah mencapai sepertiga dari jumlah kasus tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2017 gizi buruk sebanyak 85 kasus dengan angka meninggal dunia sebanyak empat orang.

Tahun 2018 ditemukan sebanyak 92 kasus dengan angka meninggal dunia sebanyak enam orang. Kemudian tahun 2019 sebanyak 83 kasus dengan jumlah meninggal dunia sebanyak tiga orang.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Raflizar menyampaikan, masalah gizi buruk dan stunting menjadi prioritas dalam pembangunan kesehatan di Provinsi Jambi.

Terkait kasus bocah pasien gizi buruk yang meninggal dunia di Tanjung Jabung Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi telah turun ke sana untuk pelacakan kasus, untuk mengetahui kronologis serta upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Tanjabbarat dan puskesmasnya.

"Informasinya pasien sempat dirawat di RSUD namun meninggal di sana. Nah sebab-sebab meninggalnya kita harus identifikasi," sebut Raflizar yang didampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat.

Dijelaskanya, tahun ini empat daerah di Provinsi Jambi ditetapkan oleh Bappenas menjadi penanganan lokus gizi buruk dan stunting berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2018. Keempat daerah tersebut antara lain Kabupaten Kerinci, Merangin, Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat.

Tanjung Jabung Barat masuk menjadi lokus karena menunjukkan kenaikan prepalansi atau kasus stunting dari tahun 2013. "Jadi itu termasuk kabupaten yang paling tinggi sampai 30 persen," katanya.

Empat daerah lokus stunting ini, akan diberi sumber dana tambahan khusus untuk penanganan stunting. Pembuatan regulasi penanganan stunting hingga interpensinya.

"Interpensinya yaitu penyediaan makanan tambahan terutama balita yang kurus dan ibu hamil yang kekurangan energi kronis," pungkasnya. (kip)

Editor: awang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved