Sentimen Positif untuk Bisnis Batu Bara, Imbas New Normal dan Penguatan Kurs Rupiah

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mulai bergeraknya ekonomi seiring dengan kebijakan

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/pras.
Foto udara tempat penumpukan sementara batu bara di tepi Sungai Batanghari, Muarojambi, Jambi. Meski harga bergejolak namun dua emiten tetap berencana mengakuisisi lahan tambang tahun depan. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mulai bergeraknya ekonomi seiring dengan kebijakan New Normal, dinilai bisa menjadi sentimen positif bagi bisnis batu bara. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) berharap permintaan batubara bisa terangkat, lalu harga dan pasar batu bara bisa segera stabil.

Terlebih, menurut Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia, produksi batu bara Indonesia masih dominan mengandalkan pasar ekspor, namun demand masih tertekan.

"Di tengah pelemahan demand ekspor, penguatan kurs Rupiah seharusnya dapat menjadi sentimen positif bagi pebisnis batu bara karena itu adalah salah satu indikator penting bahwa perekonomian nasional sudah berangsur pulih. Hal tersebut memberi optimisme bagi pelaku usaha di tengah kondisi pandemi," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Senin (8/6).

Rupiah di kurs tengah Bank Indonesia akhirnya berhasil kembali ke bawah Rp14.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Senin (8/6), rupiah di kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di Rp13.956 per dolar AS.

Dengan ini, rupiah di kurs tengah BI berhasil menguat 1,02% dibanding Jumat (5/6) yang berada di level Rp14.100 per dolar AS. Ini juga menjadi level terbaik rupiah di kurs tengah BI sejak 25 Februari. Kala itu, rupiah berada di Rp13.893 per dolar AS.

Sebagai informasi, dari target produksi batu bara tahun ini yang sebesar 550 juta ton, sekitar 75% dialokasikan untuk pasar ekspor yakni sebanyak 395 juta ton. Di sisi lain, dalam tiga bulan terakhir, harga batu bara yang tercermin pada Harga Batubara Acuan (HBA) terus merosot.

Terbaru, HBA Juni merosot ke angka US$ 52,98 per ton, turun dari HBA di bulan Mei yang sebesar US$ 61,11 per ton. Sepanjang tahun 2019, rata-rata HBA berada di angka US$ 77,89 per ton, sedangkan rata-rata HBA pada Januari-April 2020 hanya sebesar US$ 66,42 per ton.

Kementerian ESDM memproyeksikan harga batu bara Indonesia pada akhir tahun 2020 berada di rentang US$ 59-US$ 61 per ton. Proyeksi tersebut dikalkulasikan dari berbagai simulasi yang dibuat sejumlah lembaga riset komoditas global.

Sebagai gambaran, IHS Market misalnya, memperkirakan harga batubara pada akhir 2020 berkisar di angka US$ 63 per ton-US$ 64 per ton. Sedangkan proyeksi dari Trading Economic lebih mini, yakni sebesar US$ 55 per ton. Sementara perkiraan Barchart yang menaksir harga batubara di tahun ini sekitar US$ 59 per ton.

Hendra bilang, penguatan kurs rupiah serta kondisi new normal diharapkan menjadi penanda pulihnya ekonomi, yang nantinya juga berimbas pada penguatan pasar domestik.

"Sentimen positif ekonomi mulai berangsur pulih. Tentu pengaruhnya bisa ke demand domestik yang nanti bisa berangsur membaik," kata Hendra.

Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: New normal dan penguatan kurs rupiah bisa jadi sentimen positif untuk bisnis batubara

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved