Pergerakan Rupiah

Rupiah Tembus Rp13 Ribuan, Level Terbaik Sejak 24 Februari 2020

Rupiah di pasar kembali unjuk gigi di akhir pekan ini. Jumat (5/6) rupiah spot ditutup di level Rp 13.878 per dolar Amerika Serikat (AS).

KONTAN/Carolus Agus Waluyo
Ilustrasi nilai tukar rupiah ke dolar 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Rupiah di pasar kembali unjuk gigi di akhir pekan ini. Jumat (5/6) rupiah spot ditutup di level Rp 13.878 per dolar Amerika Serikat (AS).

Alhasil, mata uang Garuda ini berhasil menguat 1,56% dibanding penutupan Kamis (4/6) di Rp 14.095 per dolar AS. Ini juga menjadi level terbaik bagi rupiah sejak 24 Februari 2020 lalu. Kala itu, rupiah masih bertengger di posisi Rp 13.872 per dolar AS.

Dengan posisi ini, rupiah pun menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan. Pergerakan mayoritas mata uang di Asia pun berada di zona hijau.

Hingga pukul 15.00 WIB, hanya yen Jepang yang terlihat melemah atas the greenback setelah turun 0,21%.
Sementara itu, won Korea Selatan berada di di bawah rupiah setelah menguat 0,96%. Dilanjutkan oleh dolar Singapura yang juga naik 0,49%.

Kemudian, dolar Taiwan dan ringgit Malaysia sama-sama terapresiasi 0,41%. Peso Filipina dan yuan China pun berhasil naik, masing-masing 0,36% dan 0,28%.

Baht Thailand juga menguat 0,24%, disusul oleh rupee India yang naik tipis 0,06%. Sedangkan dolar Hong Kong terlihat stabil.

Tren positif diperkirakan belum akan menjauh dari rupiah dalam sepekan ke depan. Di pekan ini, mata uang Garuda berhasil menguat 5,01% setelah ditutup di level Rp 13.878 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (5/6).

Tren positif juga terjadi di kurs tengah Bank Indonesia (BI) setelah rupiah ditutup di level Rp 14.100 per dolar AS pada hari ini. Dengan demikian, mata uang Garuda ini menguat 4,30% dalam sepekan terakhir.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, di pekan depan sentimen yang akan berpengaruh pada rupiah adalah terkait transisi pembukaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta. Keputusan tersebut diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas perekonomian setelah menurun tajam ketika implementasi PSBB di Indonesia.

“Jika implementasi tersebut dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan kasus baru, maka perekonomian kuartal III-2020 diperkirakan akan membaik. Selain itu, masuknya kembali investasi modal asing di pasar keuangan domestik, serta turunnya persepsi risiko investasi di Indonesia atawa Credit Default Swap (CDS), juga akan menjadi pendorong untuk rupiah,” kata dia ketika dihubungi Kontan.co.id, Jumat (5/6).

Sementara analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf memperkirakan sepekan ke depan sentimen penggerak rupiah masih dipengaruhi oleh prospek pemulihan ekonomi. Selain itu, ia menyebut rapat Federal Open Market Committee (FOMC) juga akan dinantikan oleh pelaku pasar.

“Dari rapat tersebut, pasar akan mencari tahu apa yang akan dilakukan Federal Reserve dalam mengatasi kerusakan ekonomi akibat penyebaran virus corona. The Fed sudah menggelontorkan mega stimulusnya yang membuat dollar terkoreksi cukup dalam,” ujar Alwi.

Alwi menghitung rupiah akan bergerak pada rentang Rp 13.600 - Rp 14.100 per dolar AS pada pekan depan. Sedangkan Josua memperkirakan rupiah akan ada di kisaran Rp 13.700 – 14.000 per dolar AS.

Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: Hore, rupiah hari ini ditutup menguat 1,56% ke Rp 13.878 per dolar AS dan Terus perkasa, ini sentimen yang topang rupiah di pekan depan

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved