Analis Jagokan IPCC, Empat Saham Naik Kelas ke Papan Utama

Empat emiten pindah papan pencatatan dari Papan Pengembangan ke Papan Utama. Keempat emiten itu adalah PT BFI Finance

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj
Refleksi layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa sore ditutup positif dengan menguat 0,36% ke level 4.529,55. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Empat emiten pindah papan pencatatan dari Papan Pengembangan ke Papan Utama. Keempat emiten itu adalah PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), PT MNC Studios International Tbk (MSIN), dan PT Phapros Tbk (PEHA).

"Perubahan penempatan Papan Pencatatan tersebut berlaku sejak tanggal 29 Mei 2020," seperti yang tertulis dalam pengumuman BEI yang ditandatangani Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 1 Adi Pratomo Aryanto, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 Vera Florida, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 3 Goklas Tambunan, dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan Irvan Susandy, Kamis (28/5).

Perpindahan emiten ke papan utama bisa menjadi sentimen positif bagi pergerakan sahamnya. Apalagi, secara umum emiten-emiten yang pindah papan itu memiliki fundamental yang baik dan harga yang murah.

"Hanya saja memang masih belum menjadi perhatian pasar, sehingga tidak terlalu ramai yang melakukan transaksi di perusahaan ini," ungkap Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony kepada Kontan.co.id, Rabu (3/6).

Asal tahu saja, dilihat pergerakan harganya sejak pengumuman BEI hingga penutupan perdagangan, Rabu (3/6), hanya saham MSIN yang mengalami koreksi. Saham MSIN menurun 2,56% menjadi Rp 304. Sementara penguatan paling signifikan dialami oleh IPCC hingga 9,26% ke harga Rp354.

Chris mengatakan investor bisa membeli saham-saham di atas, hanya saja tetap memperhatikan kinerja fundamental perusahaannya. Adapun di antara keempat saham itu, Chris menjagokan saham IPCC.

"Lebih memilih IPCC untuk buy dengan target Rp 450," imbuhnya.

Chris menjelaskan IPCC lebih menarik timbang tiga emitan lainnya karena utangnya yang kecil. Berdasar data RTI, debt to equity ratio (DER) IPCC tercatat paling rendah di antara tiga emiten yang lain. DER IPCC mencapai 17,85%, smentara tiga emiten lain memiliki DER di atas 50%.

Adapun dilihat dari sektornya, saham yang bergerak di sektor farmasi seperti PEHA sebenarnya juga menarik di tengah kondisi seperti saat ini. Akan tetapi, mempertimbangkan utang perusahaan tadi membuat Chris cenderung lebih melirik IPCC. Asal tahu saja, PEHA memiliki DER yang terpaut jauh dengan IPCC, mencapai 159,29%.

Sementara itu, di tengah kondisi seperti saat ini, saham BFIN dan MSIN kurang menarik untuk dikoleksi. BFIN yang bergerak di usaha pembiayaan dan MSIN yang bergerak di production house, advertising dan manajemen talent itu dinilai terdampak cukup signifikan oleh Covid-19.

Tidak jauh berbeda, Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama juga merekomendasikan maintain buy untuk saham IPCC dengan target profit Rp 404, Rp 530, Rp 620, dan Rp 1.000. Menurutnya IPCC masih menarik karena Price Earning Ratio (PER) yang berada di 4,9 kali.

Ia juga berpendapat kenaikan ke papan utama idealnya menjadi sentimen positif bagi keempat saham itu, karena status saham tersebut naik.

Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: Empat saham naik kelas ke papan utama, ini rekomendasi analis

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved