New Normal dan Persiapan Jambi

Karena Corona, Bursa Saham Dunia Alami Situasi Yang Sama

Kelompok kedua adalah golongan pengusaha yang bidang usahanya terkena imbas pandemi, tetapi hanya mengalami penurunan omzet antara 30-50 persen.

tribunjambi/fitri amalia
Fasha Fauziah, Kepala Kantor BEI Perwakilan Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM - Dunia masih dilanda pandemi Covid-19. Walaupun sebagian negara yang lebih awal terkena serangan virus Covid-19 sudah mulai membaik, sebagian negara lainnya masih dalam masa puncak pandemi, termasuk Indonesia.

Berbagai sektor publik dan dunia usaha, menerima dampak signifikan dari peristiwa global ini, tidak terkecuali pasar saham dunia.

Semua bursa saham di dunia mengalami penurunan harga efek. Hal ini ditandai dengan indeks harga saham gabungan bursa-bursa global yang serempak menurun selama pandemi.

VIDEO Kabar Gembira! Mulai 31 Mei Nanti Masjid Nabawi Kembali Dibuka

Jalur Lintas Timur di Kabupaten Muarojambi Ada Titik Rawan Laka Lantas, Polres Imbau Hati-hati

Sinopsis Preview The World of The Married Episode 14, Tae Oh Panik Sun Woo Menghilang? Masih Cinta?

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Januari 2020 menurun sampai titik terendah di awal April, namun mulai menunjukkan tren bergerak naik perlahan memasuki bulan Mei 2020.

Kepala BEI Jambi, Fasha Fauziah mengatakan, pada pertengahan Mei IHSG BEI berada di kisaran 4.500. Sebelum Covid-19 merebak, IHSG BEI pada awal 2020 berada di posisi 6.325. Kisaran indeks yang saat ini berada di posisi 4.500 berpotensi untuk kembali naik ke angka di atas 6.300.

Sebelumnya, IHSG BEI pernah berada di kisaran 4.500 pada tahun 2013 atau tujuh tahun lalu. Ini artinya, jika investor saat ini masuk berinvestasi saham, bisa membeli saham-saham dengan harga yang relatif murah.

"Perbandingan murahnya harga saham saat ini sama seperti ketika membeli saham pada tujuh tahun lalu, ini menjadi peluang bagi investor di pasar modal Indonesia untuk mulai berinvestasi dan merealisasikan keuntungan saat perekonomian dunia membaik atau telah berkembang pesat kembali," ujarnya.

Kondisi ini tidak hanya dialami bursa saham di Indonesia. Semua bursa saham di dunia terkena dampak yang sama. Bursa di Jepang, misalnya. Indeks Nikkei yang menjadi indikator perdagangan saham di Jepang pada awal 2020 mencatat Indeks saham tertinggi di kisaran 24.083.

Pada pertengahan Maret, saat wabah Covid-19 masih memuncak, indeks saham Nikkei terkoreksi hingga ke level terendah 16.552. Pada minggu ketiga Mei, indeks Nikkei sudah mulai naik ke kisaran level 20.595.

Indeks Dow Jones Industrial Average Indeks (DJIA), yang menjadi salah satu indikator utama perdagangan saham di Amerika Serikat, pada bulan Februari masih berada di level tertinggi sepanjang tahun, yakni 29.551. Indeks kemudian mengalami penurunan signifikan hingga mencapai level terendah pada akhir Maret ke posisi 18.591. Pada minggu ketiga Mei, DJIA kembali naik ke posisi 24.206.

Halaman
123
Penulis: fitri
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved