IHSG

Bertahan di Tengah Fluktuasi Pasar, Investor Berorientasi Jangka Panjang Tak Perlu Panik

Pasar Modal Indonesia masih mengalami fluktuasi dan berada di bawah level 5.000 atau di bawah resisten level selama pandemi Covid-19.

Tribunjambi/Fitri Amalia
Fasha Fauziah Kepala BEI Provinsi Jambi saat kegiatan sosialisasi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pasar Modal Indonesia masih mengalami fluktuasi dan berada di bawah level 5.000 atau di bawah resisten level selama pandemi Covid-19.

Sejumlah investor saham yang bertahan memiliki saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengalami potential loss yang besar.

Apalagi jika saham-saham yang ada pada portofolionya sudah dimiliki jauh sebelum Covid-19 datang.

Perlu diingat, ini baru merupakan potensi kerugian, belum menjadi kerugian yang sesungguhnya, hingga investor menjual sahamnya.

Artinya, potensi kerugian ini akan berubah menjadi keuntungan, jika harga saham membaik kembali.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Provinsi Jambi, Fasha Fauziah mengatakan, jika investor yakin, setelah pandemi Covid-19 berakhir, ekonomi pulih kembali baik di tataran global maupun di dalam negeri, maka kurva Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diharapkan kembali naik. Artinya, harga-harga saham pun ikut terkerek kembali.

"Bagi investor yang berorientasi jangka panjang, dan memiliki tujuan yang jelas di depan, seharusnya tidak perlu panik dengan melakukan aksi merealisasikan kerugian atau cut loss. Tetap tenang dan bertahan.

Di tengah risiko penurunan harga ini juga tetap terbuka peluang keuntungan," ujarnya Minggu (17/5).

Investor bisa melakukan pembelian saham-saham yang harganya sedang murah, tetapi memiliki kinerja fundamental yang baik.

Sejalan dengan prinsip high risk high return yang berlaku di pasar saham. Strategi pembelian saham ketika harga sedang turun, dikenal dengan istilah average down.

Halaman
12
Penulis: fitri
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved