Advertorial

Mengembangkan Pendidikan untuk Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku yang masih belum merasakan kehidupan modern. Mereka hidup di Taman Nasional Bukit Dua Belas ...

Istimewa
Anak-anak Suku Anak Dalam belajar. 

TRIBUNJAMBI.COM - Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku yang masih belum merasakan kehidupan modern. Mereka hidup di Taman Nasional Bukit Dua Belas yang disediakan khusus untuk tempat tinggal mereka.

PT Sari Aditya Loka (PT SAL) yang berdampingan dengan Taman Nasional, sebagai Corporate Social Responsibility, berupaya untuk memberdayakan suku anak dalam agar dapat hidup sebagaimana masyarakat. Pada tahun 2009, PT Sari Aditya Loka memulai pembangunan sebuah sekolah bernama Sekolah Alam Putri Tijah.

Thresa Jurenzy, Community Development Officer (CDO) PT SAL, mengatakan bahwa pendidikan merupakan hak masyarakat agar bisa berkembang. Oleh karena itu, PT SAL memandang program pendidikan sebagai program yang sangat penting bagi SAD. “Saya mulai masuk pada tahun 2011 terus mengembangkan pendidikan bagi anak-anak SAD,” ujarnya.

Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku yang masih belum merasakan kehidupan modern. Mereka hidup di Taman Nasional Bukit Dua Belas yang disediakan khusus untuk tempat tinggal mereka.
Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku yang masih belum merasakan kehidupan modern. Mereka hidup di Taman Nasional Bukit Dua Belas yang disediakan khusus untuk tempat tinggal mereka. (Istimewa)

Tidak mudah untuk meyakinkan SAD untuk mau belajar. Budaya yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya sedikit menjadi hambatan. Namun, berbagai upaya dilakukan agar anak-anak mau belajar. “Segala macam upaya kita kerjakan demi pendidikan mereka,” lanjutnya. Melanjutkan program tahun 2009, PT SAL membangun sebuah sekolah lagi pada tahun 2011 dengan nama PAUD Nurul Ikhlas.

Lama kelamaan, dengan upaya pendekatan yang terus dilakukan, anak-anak SAD mulai mau bersekolah. “Salah satu SAD menjadi guru. Beliau juga yang menjadi jembatan yang baik untuk pendidikan anak-anak SAD,” lanjutnya. Anak-anak setiap pagi dijemput oleh Ibu Susi, guru dari SAD tersebut. Ibu Susi juga yang memandikan, memakaikan baju, memberi makan, sampai dengan mengajarkan anak-anak. Bersama dengan seorang guru lainnya, ia terus ingin anak-anak SAD mendapatkan pendidikan yang layak.

“Kami memfasilitasi pendidikan SAD mulai dari pembangunan sekolah, pakaian, buku, biaya guru, sampai dengan makan anak-anak,” ungkap Thressa. Tidak ada biaya sedikitpun yang dibebankan kepada SAD. Dengan demikian, diharapkan SAD bisa mendapatkan pendidikan yang baik tanpa harus berpikir tentang biaya pendidikan.

Anak-anak Suku Anak Dalam belajar.
Anak-anak Suku Anak Dalam belajar. (Istimewa)

Tidak sampai disana, pada tahun 2016, PT SAL membangun Sekolah Pintar Sungai Kuning. Hingga saat ini, sudah dikembangan 11 unit sekolah untuk SAD baik yang berupa sekolah biasa maupun sekolah yang berada di dalam hutan di Taman Nasional Bukit Dua Belas. “Ada sekolah yang mobile. Kita yang menyesuaikan dengan posisi SAD yang suka berpindah,” ungkap Thressa.

PT SAL juga membangun asrama yang dipersiapkan untuk anak-anak SAD menjalani sekolah formal. Sementara untuk sekolah formal, anak-anak SAD kami sediakan beasiswa. Semua biaya pendidikan ditanggung oleh PT SAL. Termasuk juga monitoring perkembangan pendidikan mereka. Saat ini CSR Pendidikan PT SAL dirasakan oleh 345 siswa. “Tiga Orang kami sekolahkan di Jogjakarta dengan beasiswa,” pungkasnya. (*)

Anak-anak Suku Anak Dalam belajar.
Anak-anak Suku Anak Dalam belajar. (Istimewa)
Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved