Corona dan Banjir di Kota Jambi Buat Pendapatan Penambang Ketek Makin Sulit

Hal serupa juga dikatakan oleh penambang ketek lainnya Aminudin, dirinya mengatakan meski banjir peminat penambang ketek sepi hal ini di karenakan...

Tribunjambi/Miftahul Jannah
Abdul Mutalib satu diantara penambang ketek di Kota Jambi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejumlah warga di Kota Jambi saat ini tidak hanya mengalami dampak penyebaran dan pencegahan Covid-19.

Melainkan juga mulai merasakan dampak banjir akibat meluapnya air Sungai Batanghari, yang belakangan ini merendam sejumlah wilayah di Kota Jambi.

Hal tersebut juga berdampak pada sejumlah penambang kektek yang berada di pinggiran Sungai Batanghari. Mereka mengaku saat ini sepi peminat. Hingga membuat pendapatannya menurun.

Satu diantara penambang ketek, Abdul Mutalib, warga RT 02, Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, yang mengaku sudah puluhan tahun mengais rezeki menjadi penambang ketek, mengatakan saat ini usahanya tersebut mengalami penurunan drastis.

Antisipasi Longsor dan Jalan Rusak Saat Lebaran, Dinas PUPR Provinsi Jambi Turunkan Alat Berat

Ramadan ke 17, Warga Pasar Atas Sarolangun Jaga Jarak dan Pakai Masker Saat Nuzulul Quran di Masjid

Mantan Pelatih Timnas Indonesia Ungkap Kualitas Pemain Garuda, Luis Milla Jadi Sorotan Media Vietnam

Diakuinya untuk mencari Rp 50 ribu dari penyewaan perahu juga cukup sulit. Ditambah lagi, banyaknya penyewa perahu yang juga menyandarkan rezekinya di pinggiran Sungai Batanghari.

"Biasa per hari itu bisa sampai Rp 200 ribu, sekrang Rp 50 ribu saja sulit. Pertama ya karena virus corona dan banjir ini," sebutnya, Senin (11/5/2020).

Bukan tanpa sebab, melainkan kini warga yang biasanya menyewa perahunya untuk menyebran Sungai Batanghari dari Kecamatan Pelayangan menuju kawasan Pasar Angso Duo dan sekitarnya lebih memilih diam di rumah untuk menghindari penyebaran Covid-19.

"Biasa yang naik itu yang kerja di los-los baju dan karyawan mall-mall,” sebutnya.

Selain itu, dalam kondisi banjir seperti saat ini, ia dan penyewa perahu lainnya juga harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli minyak.

"Biasa sebotol cukup sehari, tapi karena kondisi banjir, ari yang tinggi dan bergelombang, bisa sampai 3 botol sehari. Karena mesin harus bekerja ekstra melawan gelombang air sungai," katanya.

Hal serupa juga dikatakan oleh penambang ketek lainnya Aminudin, dirinya mengatakan meski banjir peminat penambang ketek sepi hal ini di karenakan oleh masyarakat yang enggan keluar rumah karena penyebaran Covid-19 yang semakin memuncak.

Dirinya juga mengatakan bahwa Saat ini, penumpang ketek sangat sepi. Sehingga terkadang ia harus sampai larut malam untuk menunggu ada penumpang.

"Pernah sehari kerja cuma dapat Rp 10 ribu malah. Tapi ya mau bagaimana lagi. Alhamdulillah kemarin ada bantuan PKH dari pemerintah," sebutnya.

Di tambah lagi arus air sungai yang deras dan angin yang kencang menjadi kendala saat mengendari ketek.

"Meski begitu harus tetap kerja, untuk anak istri di rumah," pungkasnya. (Miftahul Jannah)

Penulis: Miftahul Jannah
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved