Sejarah Indonesia

Perubahan Tanda Tangan Soeharto dari Seorang Letkol TNI hingga Jadi Presiden, Terlihat di Sisi Ini

Perubahan Tanda Tangan Soeharto dari Seorang Letkol TNI hingga Jadi Presiden, Terlihat di Sisi Ini

ist
Presiden Soerkarno dan Letjen Soeharto 

TRIBUNJAMBI.COM – Sejarah satu ini pernah dimat dalam majalah Intisari yang menguak perubahan tanda tangan Soeharto saat menjadi seorang Presiden RI kedua.

Semua dimuat dalam cerita ini, simak sepenuhnya.

"Saya amat beruntung karena dapat menyaksikan dari dekat tanda tangan beberapa tokoh militer.

Sampai ada kalanya dapat melihat perubahan-perubahan yang nampak antara masa-masa perjuangan dulu sampai yang sekarang ini.

Kecuali kertasnya yang jauh berbeda kadang-kadang juga nampak adanya beberapa perubahan.

Kertas-kertas yang dipakai pada masa perjuangan itu kadang-kadang amat memelas.

Kertas merang atau apa yang dikenal dengan nama kertas-telo. Kalau tidak, ya kertas sampul-kuning yang biasa dipakai sebagai pembungkus kado.

Ada juga kertas-kertas yang sebaliknya sudah dipakai catatan-catatan lain, masih dimanfaatkan untuk menulis surat resmi.

Tintanya pun macam-macam, ada yang memakai potlod tinta ada yang memakai pensil warna biru dan tidak ketinggalan tinta stempel dipakai juga sebagai tinta tulis.

Inilah Sosok Anggota Kopassus Berkaki Buntung yang Selalu Ditanyakan Soeharto, Legenda Baret Merah

Pernah Heboh Isu Wafatnya Ibu Tien karena Tertembak, Mantan Kapolri Zaman Soeharto Ini Buka Suara

Aksi Paspampres Soeharto saat Nyaris Duel dengan Pengawal PM Israel di Dalam Lift, Mendebarkan

Kertas-kertas antik ini betul-betul saya perlakukan sebagai orang sedang memisahkan gabah dari beras yang akan dimasak.

Apalagi kalau akan memasukkan kedalam map atau rak penyimpanan.

Harus hati-hati benar, supaya tidak lekas rusak tertindih tumpukan-tumpukan lainnya.

Lipatan-lipatan kecilpun dapat merontokkan kertas telo itu.

Memperlakukan kertas semacam ini dengan umurnya yang rata-rata sudah lebih dari dua puluh tahun, rasanya seperti menyimpan barang purbakala saja.

Belum lagi yang dirusak oleh kutu kertas atau cecunguk.

Bahkan ada juga yang sudah robek-robek dikrikit tikus piti.

39 Napi di Lapas Kelas IIA Jambi Dibebaskan Melalui Asimilasi, Dua Napi Kembali Beraksi

Kisah Soekarno yang Masuk Daftar Orang Harus Dibunuh Amerika Serikat, CIA Dianggap Jadi Dalangnya

230 Kali Kebakaran di Kota Jambi Sebabkan Kerugian hingga Rp 27,5 Miliar, Tahun 2018 Paling Parah

Seolah-olah merupakan persediaan makanan darurat, sewaktu tikus-tikus itu mengalami masa paceklik.

Maka kertas telo itu merupakan sasaran yang masih tinggi kadar gizinya bagi rata-rata tikus kecil itu.

Ini kentara sekali dari bekas kotoran yang ditinggalkan tikus-tikus pada lemari kertas antik.

Dimulai saja dari surat resmi Let. Kol. J.F. Warrow, Komandan Brigade 16 dengan nomer surat yang terdiri dari sepuluh angka: 1616111200 dar '49 tertanggal 16 Nopember 1949. Isinya tentang adanya persetujuan bersama di antara para Komandan Batallion di daerah Malang.

Yang berarti tembak menembak dan rasa permusuhan di antara anak buah Bat.

17 dibawah Mayor Abdullah, Bat. 32 Mayor Abdul Manan dan dari Be IV Mayor Rusman sudah harus dihentikan.

Yang agak aneh ialah cap dari Brigade 16 ini terdiri dari bulat telur dan bulat.

Sebaliknya diharapkan agar saling dapat menjamin keamanan. Memberi penerangan kepada rakyat, pengembalian tahanan-tahanan.

Ramalan Zodiak Besok 28 April 2020, Taurus Jangan Ambil Sesuatu yang Sulit, Gemini Raih Keberhasilan

80 Orang Terkait Klaster Gowa di Jambi Jalani Rapid Test, Ini Hasilnya

Jubir Covid-19 Kota Jambi Angkat Bicara Soal Status Zona Merah, Mengaku Belum Dapat Info dari Pusat

Campagne memberantas berita-berita yang bukan sebagai adanya dan masing-masing pasukan kembali ke tempat semula.

Demikianlah instruksi Komandan Brigade 16 atau Wehrkreise Arjuna, Jawa Timur.

Lain halnya siapakah yang menjadi Komandan Operasi “Selatan" ? Daerah Bojonegoro merupakan daerah Operasi Selatan dengan Komandan Mayor Basuki Rachmad.

Surat No. 665/VI/Sec/Dos/49 merupakan peringatan dari Komandan C.M.D. Bojonegoro Major Basuki Rachmad kepada Sie Gerindo pimpinan Sersan Sutrisno supaya consolidasi pasukan tidak sampai mengganggu keamanan daerahnya.

Basuki Rachmad yang kita ketahui sebagai Menteri Dalam Negeri pada akhir-akhir hidupnya itu, menerakan tanda tangannya diatas kertas tik biasa.

Ketikannya rapi dan masih jelas dibaca. Hanya pinggirannya yang sudah koyak-koyak, mungkin karena terus-menerus pindah dari map yang satu ke map yang lain tanpa sempat meluruskan pinggiran-pinggirannya. Atau berdandan, berbenah diri.

Membolak-balik kertas-kertas antik tidak dapat dilakukan dengan tergesa, harus dapat dinikmati satu persatu kekunoannya.

Perintah Siasat No. 58/ SP/CPD/49 ditandatangani seorang Komandan dengan potlod berwama biru, di atas kertas merang yang sudah mulai bulukan.

CPD ternyata berarti Comarido Pertempuran Daerah. Mayor S. Sokowati selaku komandannya. Dengan wilayah Madiun dan sekitarnya.

PPN Belanja Online Mulai Ditarik, Sebesar 10% dari Harga Beli

Inilah Jawaban Gemar Matematika Program Belajar dari Rumah TVRI Siswa SD Kelas 4-6, 27 April 2020

Adakah namanya berubah? S. Sokowati menjadi Soekowati, saya merasakan adanya perubahan itu. Entah kalau saya yang salah dengar.

Sekarang meningkat pada surat antik yang bernomor Kode 104/III C/'48.

Surat keputusan Komandan Brigade III, untuk memberhentikan dengan hormat, Letnan Muda III Suwardjo Stb. No. 06365. Komandan Regu 1, Sie 3, Cie Bantuan Bat. II. Alasan berhenti karena permintaan sendiri, terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1948.

Oleh sebab itu dalam SK itu Letnan Muda III Suwardjo diperkenankan mengambil tunjangan sebulan gaji.

SK dalam kertas merang ini diketik dengan rapi tetapi karena pitanya yang sudah kering kelihatan tidak begitu terang. Tanggal SK tsb. ialah 11-9-1948, Komandan Brigade III Staf, P.D. Tng (artinya Pejabat Tertinggi?), Letkol Soeharto.

Tanda Tangan Soeharto
Tanda Tangan Soeharto

Tanda tangannya agak naik, ada gelung pada huruf S dan T. Hingga muka dan belakang bergelung. Dengan coretan tajam kebawah.

Tinta spesial seperti tinta stempel Brigade III.

Perubahan tandatangan itu nampak jelas pada panjang dan gelung.

Begitu pula garis makin menaik dengan goresan tajam sudah tidak nampak lagi, setelah pak Harto menjadi Presiden RI.

(Ditulis oleh P.K. Poerwantana. Seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Januari 1974)

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE:

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved