Asosiasi Batu Bara Waspadai Penurunan Permintaan, Permintaan China Meningkat sejak Maret 2020

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memperkirakan adanya penurunan permintaan yang cukup tajam

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/pras.
Foto udara tempat penumpukan sementara batu bara di tepi Sungai Batanghari, Muarojambi, Jambi. Meski harga bergejolak namun dua emiten tetap berencana mengakuisisi lahan tambang tahun depan. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memperkirakan adanya penurunan permintaan yang cukup tajam di negara-negara utama tujuan ekspor batu bara Indonesia.

Kondisi ini merupakan imbas dari adanya pandemi corona (covid-19) yang hingga kini masih berlangsung.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengungkapkan, kinerja produksi pertambangan batu bara di Indonesia pada periode Kuartal I terbilang masih normal.

Hendra menyebut, sebagian besar perusahaan berskala besar yang menjadi anggota APBI masih tetap berproduksi optimal memenuhi target sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2020.

"Jadi untuk sisi supply produksi, sejauh di kuartal I, ekspor kita sedikit menurun bukan karena produksi berkurang. Tapi lebih karena melemahnya demand," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Minggu (26/4).

Hendra menjelaskan, sebagai pasar ekspor utama, permintaan dan pasokan batu bara di China sudah meningkat sejak bulan Maret 2020. Meski tren peningkatan konsumsi batu bara di China memberikan sentimen positif, namun hal tersebut tidak otomatis membuat pasar ekspor batubara di kuartal II bakal membara.

Sebab, cadangan stockpile batu bara yang melimpah di China bisa jadi akan membuat impor batu bara dari Negeri Tirai Bambu itu menurun di bulan-bulan berikutnya.

"Masih kami cermati masalah oversupply di China, dimana stockpile batu bara mereka masih cukup besar. Sehingga bisa berdampak terhadap impor batu bara mereka di bulan-bulan ke depan terutama di akhir April dan di kuartal-II," jelas Hendra.

Menurut Hendra, sekalipun konsumsi batu bara di China mulai pulih lagi, namun total impor tahunan diprediksi akan turun tajam di tahun 2020 ini. Hal yang sama juga terjadi di pasar India.

Selain itu, sambungnya, pasar Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang dan Taiwan juga ditaksir bakal anjlok lantaran tekanan ekonomi, kebijakan domestik, serta kompetisi dengan komoditas energi lainnya, khususnya gas.

Berdasarkan data yang dihimpun Kontan.co.id, China dan India, serta negara Asia Timur menjadi tujuan ekspor utama batu bara Indonesia. Sebagai gambaran, pada tahun lalu total ekspor emas hitam Indonesia tercatat sebesar 454,5 juta ton.

Dari jumlah itu, China mendominasi dengan 33%, disusul India dengan 27%. Sementara ekspor ke Korea Selatan sebanyak 7%, Jepang 6%, dan Taiwan sebanyak 5% dari total ekspor batubara Indonesia di tahun 2019.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved