WIKIJAMBI Kletek Udang, Jajanan Khas Tungkal yang Dibuat dari Udang Asli
Kabupaten Tanjabbar tidak hanya terkenal akan Pelabuhan RoRo namun hasil laut berupa sea food menjadi komoditi di wilayah ini.
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL-Kabupaten Tanjung Jabung Barat (tanjabbar) merupakan satu Kabupaten di Provinsi Jambi. Jarak tempuh dari Kota Jambi menuju Kota Kuala Tungkal sebagai ibukota Kabupaten Tanjabbar memakan waktu sekitar tiga sampai lima jam tergantung kondisi.
Kabupaten Tanjabbar memiliki slogan yaitu Serengkuh Dayung Serentak Ketujuan. Slogan ini memiliki makna bahwa masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang berbeda etnis dan agama bersama-sama dalam memajukan Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang sangat potensial untuk mencapai Tanjung Jabung Barat yang lebih maju dan berkembang.
Kabupaten ini terbagi menjadi 13 kecamatan yang terbagi lagi menjadi 20 kelurahan dan 114 desa. Potensi hasil laut menjadi potensi yang menjanjikan dan dikembangkan oleh masyarakat sekitar. Kabupaten Tanjabbar tidak hanya terkenal akan Pelabuhan RoRo namun hasil laut berupa sea food menjadi komoditi di wilayah ini.
• Bantu Putus Penyerabaran Covid-19, Danu Bagikan Hand Sanitizer pada Tukang Sapu dan Loper Koran
• Sembuh dari Virus Corona Covid-19, Pria Bekasi Ini Ceritakan Pengalamannya: Kaya Kelelep di Kali
• Pulang ke Tanjab Barat, 162 Santri Pondok Pesantren Diminta Isolasi Mandiri
Kekayaan hasil laut ini lah yang dimanfaatkan masyarakat sekitar dan diolah berbagi rupa sehingga menjadi pemasukan keuangan bagi kebutuhan ekonomi masyarakat Kabupaten Tanjabbar. Ini lah yang dilakukan oleh keluarga Nurmia, menjadikan hasil laut sebagai bahan pokok untuk perkembangan usaha UMKM.
Kletek itulah nama hasil produk yang dihasilkan oleh Mia. Cemilan khas Tanjabbar ini memiliki rasa gurih, renyah dan enak. Ia memanfaatkan udang segar hasil laut di perairan Tanjabbar sebagai bahan utama pembuatan Kletek. Untuk satu kali produksi Ia bisa menghabiskan udang segar sebanyak 50 kilogram.
"Bahan utama itu kita udang segar yang kita ambil dari nelayan di sekitar sini. Untuk satu kali produksi menghabiskan bahan udang 50 kilo, tepungnya 65 kilo, minyaknya 40 kilo, dan 15 butir telur ayam," ujarnya saat diwawancarai, Sabtu (4/4).
Sementara itu, dari percampuran bahan-bahan tersebut, dirinya bisa menghasilkan 80 kilogram Kletek. Kletek ini sendiri berbentuk seperti stik yang pemasarannya sudah cukup luas ke berbagai daerah. Ada banyak proses untuk menyulap udang segar dan bahan lainnya sehingga menghasilkan Kletek yang enak.
"Udang yang didapat dibersihkan dengan cara membuang kulitnya, kemudian dicuci dan digiling dan ditambah 15 butir telur ayam, setelah halus masukkan bumbu-bumbu yang disiapkan dengan ditambah batu es, yang kemudian dibiarkan selama satu jam, agar mengental," terangnya.
Penggunaan batu es sendiri sangat diutamakan, kata Mia ini. Ini sebagai suatu pengembang alami untuk adonan Kletek Ini lah yang membedakan, karena dirinya tidak menggunakan bahan pengawet apapun dalam proses pembuatan Kerupuk Kayu Api khas Tanjabbar.
Proses selanjunya untuk membuat Kletek, bahan-bahan yang telah dicampur tadi kemudian dituangkan ke dalam wadah yang sudah berisikan tepung. Semuanya diaduk menggunakan tangan yang bersih hingga tercampur dan bisa dibentuk sesuai dengan ukuran.
"Kemudian diiris-iris langsung digoreng dengan menggunakan minyak panas. Setelah masak didinginkan, dan di packing, dan siap dipasarkan," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/04042020_kletek-udang.jpg)