Berita Merangin

Bawa Nasi dan Makan Bersama Pada Isra Miraj, Tradisi Warga Muaro Panco Merangin Sejak Lama

Selain merayakan Isra Miraj, dalam kesempatan itu juga dilakukan doa tolak balak dan terhindar dari segala macam penyakit, terutama penyakit...

Penulis: Muzakkir | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/Muzakkir
Suasana Isra Miraj di Masjid Agung Baitussalam, Desa Muaro Panco, Merangin. 

Bawa Nasi dan Makan Bersama Pada Isra Miraj, Tradisi Warga Muaro Panco Merangin Sejak Lama

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Ratusan masyarakat Desa Muaro Panco baik Timur maupun Barat di Kabupaten Merangin hadir memadati Masjid Agung Baitussalam dalam perayaan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Minggu (22/3/2020).

Dalam kegiatan ini, panitia pelaksana menunjuk Ustad Arsof bin H Jalaluddin LC sebagai penceramahnya.  

Dalam penyampaiannya, Arsof menyampaikan panjang lebar terkait sejarah Isra Miraj ini.

Suasana Isra Miraj di Desa Masjid Agung Baitussalam
Suasana Isra Miraj di Desa Masjid Agung Baitussalam

Kata dia, Isra Miraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW bertemu Allah SWT ke Sidratul Muntaha atau langit ke tujuh dalam satu malam saja.

Perjalanan ini merupakan perjalan untuk Rasulullah menerima perintah salat wajib lima waktu setiap hari.

Ada 343 Peserta CPNS Sarolangun yang Masuk SKB, Jadwalnya Belum Ditentukan

Armada Perang Kiriman Prabowo Sukses Mendarat di Shanghai, Pesawat Hercules Bawa 9 Ton Alkes Pulang

VIDEO : Sosialisasi Corona, Diskominfo Keliling Kota Bangko Gunakan Mobil Damkar

Isra Miraj diperingati setiap 27 Rajab. Dalam perjalanan Isra Miraj, Nabi Muhammad menerima perintah salat berkali-kali dari semula 50 kali sehari menjadi lima waktu sehari.

Perintah salat ini merupakan bentuk hubungan langsung antara Allah dan Rasulullah.

Peringatan Isra Miraj ini sebaiknya dimaknai untuk memperbaiki kualitas salat yang sekaligus bakal memperbaiki hubungan dengan Allah.

Menurut dia, jika makan sehari-hari merupakan kewajiban yang utama, maka salat lebih dari kewajiban itu.

Salat merupakan perintah langsung dari Allah.

"Salat lima waktu untuk menyambungkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Akan sangat rugi apabila meninggalkannya. Karena salat lima waktu bukan beban," kata Arsof.

Selain merayakan Isra Miraj, dalam kesempatan itu juga dilakukan doa tolak balak dan terhindar dari segala macam penyakit, terutama penyakit yang tengah menyerang dunia saat ini, yaitu virus corona atau Covid-19.

Doa ini dipimpin oleh Ustad Abdul Kadir Nawawi pimpinan Pondok Pesantren Azzakariyah desa tersebut.

Dalam perayaan Isra Miraj kali ini, warga desa setempat masih mempertahankan adat istiadat mereka.  

Suasana Isra Miraj di Desa Masjid Agung Baitussalam Desa Muaro Panco
Suasana Isra Miraj di Desa Masjid Agung Baitussalam Desa Muaro Panco

Dimana semua rumah yang ada di desa tersebut wajib membawa nasi beserta lauk pauknya ke masjid tersebut.

Nasi tersebut dibawa untuk dimakan bersama-sama masyarakat yang hadir di acara tersebut.

Kepala Desa Muaro Panco Barat, Halib Mawardi menyebut, tradisi ini memang sudah lama, bahkan dari nenek moyang terdahulu sudah diterapkan tradisi ini.

"Ini bentuk kebersamaan kita. Kita ini bersaudara," kata Halib.

Selain membawa nasi dari rumah, panitia juga telah menyiapkan masakan khusus, dimana mereka memotong satu ekor kerbau.

"Alhamdulillah tahun ini di acara Isra Miraj ini kita bisa motong kerbau. Mudah-mudahan ke depannya kegiatan serupa terus dilakukan," imbuhnya.

(Tribunjambi.com/ Muzakkir)

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved