Selalu Ada Peluang di Setiap Situasi, Pasar Modal Indonesia Alami Koreksi Dalam

Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa efek dunia tengah mengalami koreksi akibat isu virus Corona. Ditambah di bursa domestik

Penulis: Fitri Amalia | Editor: Fifi Suryani
Tribunjambi/Fitri Amalia
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Provinsi Jambi, Fasha Fauziah mengisi acara Workshop Wartawan Pasar Modal, di BW Luxury Hotel, Keruing Room, Kamis (17/10). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa efek dunia tengah mengalami koreksi akibat isu virus Corona. Ditambah di bursa domestik tengah dalam penyelesaian sejumlah kasus manajer investasi.

Apa yang harus dilakukan para pemodal saham saat ini? Di industri pasar modal seluruh dunia ada siklus naik dan turun.

Tahun 2008 misalnya, Indonesia dan negara-negara di dunia mengalami resesi ekonomi yang berawal dari peristiwa subprime mortgage di Amerika Serikat.

Sepuluh tahun sebelumnya, 1998, Indonesia mengalami resesi ekonomi yang berakhir dengan reformasi politik. Krisis saat itu di dunia diawali dari resesi mata uang Bath di Thailand yang akhirnya merembet ke Kawasan.

Tahun 2018 sejatinya masuk gelombang dekade krisis. Tetapi saat itu masih cukup aman dan baru memburuk di tahun 2020.

Sama seperti dekade-dekade sebelumnya, Pasar Modal Indonesia mengalami koreksi yang tajam.

Pelaku pasar modal tentunya banyak yang mengalami kerugian investasi akibat turunnnya harga-harga saham.

Fasha Fauziah, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Jambi mengatakan, di pasar modal, selalu ada peluang di setiap situasi. Saat harga-harga saham sedang turun karena banyak investor yang menjual saham. Dan ini menjadi peluang kentungan bagi investor yang membeli saham-saham tersebut di harga rendah.

Dalam siklus ekonomi, setelah berada di titik terendahnya (bottom), akan kembali mengalami siklus naik. Waktunya memamg tidak sama. Ada yang cepat misalnya hanya satu tahun ada yang dua bahkan tiga sampai lima tahun untuk kembali naik.

"Jadi investor pasar modal tetap bisa memanfaatkan situasi pasar yang sedang turun ini, untuk mendapatkan keuntungan investasi dalam jangka waktu panjang," ujarnya Minggu, (15/3).

Saham-saham apa yang penurunannya tidak terlalu besar dalam situasi krisis dan cepat pulih, contohnya saham perusahaan industri farmasi contohnya adalah saham yang relatif tahan krisis dan akan cepat recovery.

Karena obat-obatan tetap dibutuhkan orang yang akan tetap terkena penyakit dalam situasi ekonomi apapun.

Artinya, perusahaan-perusahaan farmasi tidak akan mengalami penurunan kinerja yang signifikan dan harga saham sektor ini relatif stabil.

Sektor yang kedua berdasarkan analisa beberapa perusahaan sekuritas, yang tahan krisis adalah sektor makanan.

Karena orang tetap butuh makan. Perusahaan yang memproduki mi instan, harga sahamnya relatif bertahan. Orang akan mengkonsumsi lebih banyak makanan cepat saji yang harganya terjangkau di masa resesi.

"Sebaliknya, sektor konsumsi non primer seperti otomotif, gaya hidup contohnya pusat perbelanjaan, otomotif, gadget, dan barang lain yang berkomponen impor cenderung menurun harganya dan agak lama untuk naik kembali, sektor perumahan atau real estate juga cenderung paling terpukul saat krisis," jelasnya.

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved