Cegah Bullying Terjadi di Sekolah, Perlu Komunikasi Guru dan Orang Tua

Sejumlah wali murid menyanyangkan adanya kasus bullying di sekolah tingkat dasar yang terjadi di Muarojambi beberapa waktu lalu.

Cegah Bullying Terjadi di Sekolah, Perlu Komunikasi Guru dan Orang Tua
verywellfamily
Ilustrasi Korban Bully 

Cegah Bullying Terjadi di Sekolah, Perlu Komunikasi Guru dan Orang Tua

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI-Sejumlah wali murid menyanyangkan adanya kasus bullying di sekolah tingkat dasar yang terjadi di Muarojambi beberapa waktu lalu. Seperti diungkapkan oleh Aar seorang wali murid yang menyekolahkan anaknya di SD Tempino. Ia menyebutkan bahwa peran guru agama setidaknya bisa memberikan arahan terhadap anak-anak didik.

Terlebih menurutnya, anak-anak SD tidak hanya belajar ilmu umum tetapi juga perlu mendapat pengetahuan mana yang baik dan yang tidak baik, mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh di lakukan. Peran serta guru dan komunikasi pihak sekolah juga perlu dibangun.

"Jadi ini juga peran penting guru agama yang ada di sekolah, ngasih tau mana akhlak yang baik dan tidak baik. Komunikasi juga dengan wali murid penting, anak ini disekolah seperti apa, perilakunya gimana. Tidak hanya dalam belajar, tetapi juga dalam kegiatan anak-anak ketika di luar jam belajar," terangnya.

Cegah Bullying, Dinas Pendidikan Muarojambi Berencana Datangkan Psikolog ke Sekolah

Jadwal Tes SKD CPNS Sarolangun Diperkirakan Februari, Simak Perkembangannya di Sini

VIDEO: Detik-detik Korban Hanyut di Bungo Ditemukan, Sempat Terbawa Arus Puluhan Kilometer

Sementara itu, Endang yang merupakan guru Bimbingan Konseling di SMPN 46 Desa Tangkit, saat dimintai tanggapan terhadap adanya tindakan bullying yang dilakukan oleh siswa SD, Ia menyebutkan bahwa kondisi saat ini krisis sosial pada anak-anak.

"Di SD ini tidak ada konseling, kalo dulu kita lihat tawuran di usia SMP dan di SMP penanganannya ada di BK. Kalo sekarang sudah krisis sosial, kita lihat anak-anak SD sudah tau merokok, main Hp, di anak SD sudah tau main Hp kalo dulu itu tidak ada Hp dan tidak banyak yang tau," jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa penggunaan Hp juga menjadi faktor terhadap tumbuh kembang pola pikir anak-anak saat ini. Untuk itu juga, peran guru juga diperlukan dalam membimbing anak-anak. Soal guru BK di sekolah tingkat dasar juga dikatakan oleh Endang saat ini diperlukan.

"Kalo menurut saya guru saat ini dituntut untuk melakukan pendekatan yang lebih terhadap anak, karena peran guru ini mengenal jauh psikologis anak, jangan kita berjarak dengan anak-anak," terangnya.

Ilustrasi bullying
Ilustrasi bullying (TribunJogja.com)

Ia menyebutkan bahwa pola didikan anak-anak saat ini tidak lagi menggunakan kekerasan. Di ungkapkan oleh Endang, bahwa saat ini guru malah terlihat lebih bersikap cetus kepada anak-anak, sehingga anak-anak tidak merasakan kedekatan antara anak dan orang tua.

"Anak sekarang tidak bisa lagi pakai kekerasan, dikasih tau dengan baik. Tapi harus ada ditututlah, kalo sekarang banyak yang cetus, guru dan anak itu memang punya jarak, jarak dalam hal ini tau sopan santun dan etika. Tapi anggaplah anak didik kita sebagai anak kita yang perlu kita didik dengan baik dan lemah lembut," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa jiwa mendidik di setiap guru itu adalah otodidak. Sehingga ketika mengajar mengetahui bagaimana karakter dari masing-masing anak didik, karena memang setiap anak didik memiliki perilaku yang berbeda dan cara mengayominya juga berbeda.

"Menurut saya di SD sudah perlu adanya konseling. Wali kelas menjadi guru yang mendekatkan diri kepada anak didik, sehingga persoalan di anak didik kita bisa kita selesaikan dengan baik," pungkasnya.

Penulis: samsul
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved